Review: I Was a Rat or The Scarlet Slippers

i was a rat

Judul: I Was a Rat! or The Scarlet Slippers
Penulis: Philip Pullman
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 256 hlm.
ISBN-10: 9792234306
ISBN-13: 9789792234305
Terbit: Desember 2007


Usia kelayakan baca: 8 y.o and above
“DULU AKU TIKUS!”

Begitu kata Roger. Mungkin omongannya benar.
Tapi makhluk apa ia SEKARANG?
Monster mengerikan yang gentayangan di gorong-gorong?
Koran Daily Scourge yakin begitu.

Tontonan di pasar malam?
Itulah dirinya bagi Mr. Tapscrew.

Maling lihai?
Itulah yang diharapkan Billy.

Atau ia cuma anak laki-laki biasa, walaupun kebiasaannya mirip tikus? Hanya tiga orang memercayai versi ini. Dan hanya seorang yang tahu siapa sebenarnya Roger. (sinopsis)

Saya suka buku ini - I love this book so much. Karena itu, saya tidak akan merewiew isi buku ini terlalu banyak.

I was a rat, menceritakan tentang Roger, seorang anak laki-laki yang bersikeras meyakinkan semua orang bahwa dulunya dia adalah tikus. Hewan pengerat yang tinggal di gorong-gorong, jorok dan mengerikan.

Di suatu malam, secara tidak sengaja Roger mendatangi rumah suami istri, Bob dan Joan, dia mengetuk pintu rumah mereka dan berkata, "saya dulu tikus". Melihat keadaan Roger yang linglung saat itu, Joan jatuh iba. Dia menyuruh Roger untuk masuk dan memberinya makan, sepotong roti serta susu. Roger memakannya dengan seketika. Kedua suami istri itu berusaha mencari tahu tentang asal usul Roger. Tapi, sepertinya memang Roger tidak tahu apa-apa selain keyakinannya bahwa dia dulu adalah tikus.

Karena jawaban yang diberikan Roger tidak jelas, Bob dan Joan mengambil kesimpulan sendiri, bahwa Roger pastilah anak malang yang kehilangan ingatan, mungkin karena kepalanya terbentur sesuatu yang keras sehingga dia lupa akan asal usulnya. Disinilah akhirnya Roger mendapatkan namanya sekarang.
"Aku tidak melihat sentok, jadi kugunakan wajahku"

"Namanya sendok, bukan sentok. Untuk makan telur, kau harus menggunakan pisau dan garpu." (hal. 26)

Bob dan Joan tidak putus asa untuk mencari tahu tentang asal usul Roger, siapa dia sebenarnya, tinggal dimana, dan mengapa dia memakai seragam pesuruh dihari dia datang ke rumah mereka, pasti ada seseorang yang mempekerjakannya, karena dia sempat beberapa kali menyebut nama Mary Jane.

Bob dan Joan berkeliling mulai dari Balai Kota, Panti Asuhan, Kantor Polisi, Rumah Sakit hingga akhirnya ke Sekolah Umum, mereka memutuskan bahwa Roger harus (ke) sekolah. Karena tidak ada pihak manapun yang disebutkan diatas yang mau menerima Roger, selain sekolah.

Suatu ketika berita mengenai keberadaan Roger atau keanehan Roger terdengar oleh Filsuf Royal, sesuai dengan julukannya, Filsuf Royal suka sekali hal-hal yang bisa memancingnya untuk berfilosofi, jadi dia berniat mewawancarai Roger dan membawanya sebentar ke istana untuk melakukan penelitian kecil-kecilan terhadap Roger. Bob dan Joan setuju saja ketika Filsuf Royal membawa Roger, dengan catatan Filsuf Royal harus memulangkannya sebelum malam.

Roger menjalani sesi tanya jawab dengan Filsuf Royal dengan baik, dia menjawab semua pertanyaan dengan lancar, sampai suatu ketika, disaat Roger sedang sibuk mengunyah tali lonceng yang menggantung di jendela, Filsuf Royal mengeluarkan kucingnya, Bluebottle. Awalnya dia hanya ingin mengetahui reaksi Roger, jika memang dia adalah tikus apa yang akan terjadi seandainya Roger melihat Bluebottle. Dan yah, itu yang terjadi, seperti yang kita semua kira, Roger menjerit dan melompat menjauh serta lari pontang panting keluar dari istana. Tidak kembali lagi.

Disinilah petualangan Roger sebagai anak laki-laki maupun sebagai tikus dimulai.

Cerita di buku ini sangat menyenangkan untuk dibaca, ringan tapi banyak pesan moral yang disampaikan. Sekilas memang mirip dengan cerita Cinderella, tapi yang satu ini mengambil sudut pandang si tikus bukan sang Putri ^_^.

Ini adalah novel pertama Philip Pullman yang saya baca, dan yah..after I read this book, I'm sure I fall in love with him.

Review ini dikutsertakan dalam event:New Author Reading Challenge 2013 dan Fun Year Event with Children’s Literature

Poskan Komentar

Designed by FlexyCreatives