Review: Malaikat Jatuh

Image
picture taken here


Judul : Malaikat Jatuh
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Penulis : Clara Ng
Edisi : Soft Cover
ISBN : 9792239359
ISBN-13 : 9789792239355
Tgl Penerbitan : July 2008
Bahasa : Indonesia
Halaman : 168 hlm

Malaikat Jatuh adalah kumpulan cerpen yang ditulis oleh Clara Ng - ada 10 cerita di buku ini yang berkisah tentang cinta secara universal, tapi sebagian besar adalah cerita cinta antara ibu dan anak.

Seperti yang sudah-sudah, saya selalu kesulitan kalau harus disuruh menulis review novel kumcer. Mungkin satu cerita yang akan saya review - Malaikat Jatuh  - sesuai dengan judul bukunya.

Malaikat Jatuh berkisah tentang Beppu, salah satu malaikat yang tidak sempurna karena memiliki sayap hanya satu - meski hanya memiliki satu sayap - dia tetap malaikat. Konon ada sebuah mitos, barangsiapa yang memakan jantung Malaikat, dia akan hidup kekal selamanya. Dan inilah yang membuat Manna berpikir, apabila jantung saja bisa begitu istimewanya, mungkin setetes darah Beppu akan bisa menyelamatkan Mae - anak
perempuan satu-satunya yang sangat disayanginya. Tapi kenyataan berbicara lain, Mae bukan lagi Mae yang dulu, setelah dia mencecap manisnya darah Beppu, Mae berubah menjadi sosok yang mengerikan. Sedangkan Manna - dia berusaha menutup mata atas perubahan yang terjadi pada diri Mae, banyak korban berjatuhan karena ulah Mae - tapi Manna tetap tak bergeming, dia tidak ingin selalu ditinggalkan oleh orang-orang yang disayanginya, dia tidak ingin selalu dirinya yang menghadiri pemakaman orang lain, dia tidak ingin selalu menjadi yang terakhir, dia lelah, baginya tidak ada yang lebih penting selain Mae disisinya - bagaimanapun wujud Mae, dia tetap anaknya - begitu pikir Manna.

Bagaimana kelanjutan kisah ini, silahkan dibaca bukunya yah ^_^ *avoid spoiler*

Penilaian saya tentang buku ini - saya kurang suka.

Terlalu suram untuk kisah yang mengangkat tema kasih sayang ibu dan anak, dan covernya juga - sangat ngga sesuai dengan isi ceritanya, kalau melihat sekilas gambar covernya, orang akan berpikir ini adalah cerita fantasi yang light and sweet, tapi nyatanya setelah saya merampungkan cerita pertama - saya langsung merinding and a lil bit dizzy. Meski begitu saya tetap merampungkan juga membaca kesepuluh cerita yang ada di buku ini. Dan dari kesepuluh cerita yang ada di buku ini hanya cerita "Bengkel Las Bu Ijah" yang menurut saya tidak berkesan suram dan kelam (meski saya juga ngga ngerti itu sebenarnya bercerita tentang apa, maaf kecerdasan saya agak rendah di bagian ini).

Buku ini mirip buku karya Edgar Allan Poe yang berjudul Kisah-Kisah Tengah Malam - tapi paling tidak cover buku Poe memang sudah terkesan horor.

Tidak disarankan untuk bacaan untuk anak-anak meski covernya ada gambar anak-anak.

Review ini diikutsertakan ke event: Membaca Sastra Indonesia, Klasik dan Kontemporer

Posting Komentar

Designed by FlexyCreatives