Review: Cinta Pertama

Judul: Cinta Pertama
Penulis: Ivan Turgenev
Penerjemah: Rusman Sutiasumarga
Penerbit: PT. Dunia Pustaka Jaya
ISBN: 9789794193549
Tebal: 173 hlm

(a review to #savepustakajaya)

"Cinta pertama biasanya sulit dilupakan"

Kalimat lawas yang kebenarannya awet sampai sekarang, saya mengiyakan karena juga mengalaminya sendiri. Cinta pertama memang paling sulit dilupakan, entah karena itu bernama cinta atau karena momen pertama kalinya, yah, bisa dibilang dua-duanya benar.

Saya bukan penggemar berat cerita romantis, apalagi untuk suatu bacaan (novel), menurut saya cerita roman itu terlalu menguras emosi, hehee..that's why I better took another genre ◔_◔

Jadi, karena bulan ini BBI mengambil tema romance untuk proyek baca bareng.nya, saya memilih ikut meramaikan proyek tersebut dengan membaca Cinta Pertama karya Ivan Turgenev, sengaja milih yang tipis, hehee..

Tokoh utama di novel ini bernama Vladimir Petrovitsy, seorang laki-laki yang berkebangsaan Rusia. Cerita ini sendiri bermula ketika selepas acara pertemuan yang diadakan oleh salah satu kolega Vladimir, si tuan rumah meminta para tamu yang saat itu masih tinggal untuk menceritakan pengalaman cinta pertama mereka, Vladimir kebetulan yang mendapat giliran pertama bercerita.

Kisah cinta pertama Vladimir dimulai ketika dirinya masih berusia 16 tahun. Sebelum kehadiran tetangga barunya, keluarga Zasekina, kehidupannya sebagai anak muda terbilang biasa-biasa saja. Tetangga barunya ini memiliki seorang puteri bernama Zinaida. Sebenarnya keluarga Zasekina adalah keluarga yang kaya raya, diceritakan juga mereka adalah keturunan bangsawan tapi setelah kematian sang Suami, kehidupan Ibu dan Anak ini, menjadi melarat, hingga akhirnya mereka terpaksa pindah ke rumah yang lebih sederhana.

Zinaida adalah seorang gadis muda sekaligus seorang Putri yang cantik, usianya sekitar dua-puluhan, sehari-harinya dia gemar mengadakan pertemuan atau bisa dibilang pesta di rumahnya yang sederhana. Para tamu undangan yang hadir semuanya adalah para lelaki dari berbagai golongan, mereka adalah: Pangeran Malyevsky, Dokter Loesyin, penyair Madanov, mantan Kapten bernama Nirmatsky, dan seorang prajurit berkuda yang bernama Byelozorov, mereka semua menaruh hati pada Sang Putri, Zinaida. Tak terkecuali Vladimir yang berusia paling muda diantara para pemuja itu. Semenjak perkenalannya dengan Zinaida, Vladimir dapat dipastikan selalu hadir disetiap pertemuan yang diadakan Sang Puteri. Tidak sekalipun dia rela kehilangan momen bertemu dengan Zinaida.

Sosok Zinaida sendiri, tidak begitu menarik perhatian saya, selain dia adalah seorang puteri yang menyebalkan karena tidak memiliki pendirian dan tujuan yang jelas, sikap Zinaida yang semaunya, egois dan manja, semakin memperburuk citranya sebagai seorang putri.

Cerita ini mengajak pembaca untuk benar-benar merasakan emosi dan pergulatan batin yang dialami Vladimir. Bagaimana dia, sebagai seorang anak muda berada diantara para lelaki yang lebih tua darinya berusaha memperebutkan perhatian Sang Puteri, bagaimana ketika Zinaida menyeret perasaannya kesana-kemari tanpa kejelasan, sampai suatu ketika Vladimir harus mengalami sakit hati karena Zinaida justru mencintai orang lain, di penghujung cerita Vladimir masih harus mengalami kekecewaan karena disaat terakhir kehidupan Zinaida dirinya kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan pujaan hatinya.

Buat saya novel ini benar-benar menguras habis emosi, selain karakter yang dimiliki tokohnya, gaya bahasa yang dipakai cukup memusingkan, entah karena terjemahan yang kurang sesuai atau bahasa aslinya yang memang susah dipahami, buat saya masalah bahasa ini, memakan porsi yang lebih besar.

Dibagian belakang buku ini dituliskan kalau kisah cinta di novel ini sangat peka dan mengharukan - well, mungkin tadinya bisa mengharukan kalau saja saya tidak keburu emosi dengan gaya bahasa yang dipakai, yah..meskipun ending ceritanya cukup mudah ditebak.

Cover-nya menarik, saya suka, benar-benar menggambarkan isi cerita juga karakter tokoh di dalamnya. Overall, I give  3 of 5 stars for this book.


Tentang Penulis:

Ivan Turgenev adalah pengarang Rusia pertama yang memberi gambaran gamblang tentang keadaan di Rusia pada abad ke-19. Karyanya lebih mudah dipahami daripada Tolstoy dan Dostoyevsky. Penulis prosa ini dilahirkan pada tanggal 28 Oktober 1818 di Oryol, Rusia, sebagai anak seorang tuang tanah. Cara-cara ibunya yang berlaku bengis kepada pembantunya, membuat Turgenev muda bersumpah akan menentang perbudakan. Ia menempuh pendidikan di Universitas Petersburg, kemudian di Berlin (1838-1844), tempat ia menetap seterusnya. Turgenev meninggal pada tahun 1883 di Bougival dekat Paris.

Pada mulanya ia menulis sajak (1834). Namun barulah ia menjadi terkenal setelah menulis novelet Chorij dan Kalinstj di tahun 1847 yang melukiskan dua tipe petani dengan segala kebebasan individunya. A Sportsman's Sketches (1852), merupakan dakwaan atas perbudakan. Kemudian terbit buku-buku romannya yang lain, berjudul Rudin (1855), A Nest of Gentlefolk (1858), On the Eve (1860), Fathers and Sons (1861) yang pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Noer St. Iskandar dengan judul Peredaran Zaman, melukiskan pertentangan antara dua generasi.
  1. Aku nyerah di bab pertama buku ini, buatku terjemahannya terlalu kaku, jadi ogah lanjutin baca... -___-

    BalasHapus
  2. Wah, saya juga belum baca buku ini...
    Tapi saya mau komen...
    :D :D

    Saya suka romance, yang mewek-mewek. *Hadeeeh*
    Dan ini terjemahan ya...
    Masalah yang timbul karena terjemahan biasanya suka nggak sinkron kata-katanya, bisa aja karena penerjemah: menerjemahkan tanpa menyesuaikan bahasa Indonesia...

    *kok saya ngerasa kalimat saya njelimet ya? Hahahaaa*

    BalasHapus

Designed by FlexyCreatives