Review: What's Left of Us

Judul: What's Left of Us - A Memoir
Penulis: Richard Farrell
Penerjemah: Mahir Pradana
Penerbit: Gagas Media
ISBN: 9797805050
Cetakan I, 2011
Tebal: 342 hlm

"...membicarakan tentang penderitaan itu menghilangkan penderitaan itu sendiri" (pg. 136)

Saat orang-orang berpikir bahwa para pecandu itu adalah sekelompok manusia yang tidak berguna dan kerap kali dicap sebagai sampah masyarakat, kita sebagai orang normal tanpa berniat untuk melihat lebih jauh kedalam merasa diri yang paling benar dan bersih, pembenaran atas kekeliruan.

What's Left of Us - memberikan pandangan kepada diri saya pribadi, bahwa seorang pecandu narkoba sendiripun sebenarnya enggan untuk hidup berdampingan dengan jarum suntik dan bubuk heroin, tapi untuk keluar dari kehidupan buruk tersebut mereka tidak mampu melakukannya sendiri, selalu dibutuhkan bantuan orang lain untuk menyelamatkan hidup mereka. Paling tidak yang mereka butuhkan hanyalah seorang pendengar setia.
***

Richard Farrell melalui bukunya, What's Left of Us - mengajak pembaca untuk memasuki kehidupannya sebagai seorang ayah, seorang anak, seorang pecandu dan seorang penjahat sekalipun. Dia, membagi kisah hidupnya dengan bahasa yang apa adanya dan tidak ditutup-tutupi, terutama jika berbicara tentang keburukannya.

Dikisahkan dibuku ini bagaimana keseharian seorang Richie (nama panggilan untuk Richard Farrell) yang hidupnya pernah begitu sempurna, memiliki segalanya termasuk kekayaan dan keluarga kecil yang bahagia, berubah drastis menjadi sangat terpuruk, kehidupan rumah tangga yang berantakan, dan hidupnya begitu tergantung pada bubuk heroin, tidak ada masa depan untuk Richie, itulah yang ada dipikirannya.

Suatu ketika sebuah kejadian mengantarkan Richie pada Lowell Detox, semacam pusat rehabilitasi yang didirikan pemerintah setempat untuk orang-orang yang memiliki ketergantungan pada narkoba maupun alkohol. Richie harus menjalani hari-harinya di Lowell Detox dan bertahan tanpa heroin selama 7 hari, hanya 7 hari, dan setelah itu dia harus pergi meninggalkan Lowell Detox.

Di dalam Lowell Detox, Richie bertemu dengan beberapa orang teman, beberapa diantaranya bernama, Doc, Mike, Murph dan Crazy Mary. Richie juga berkenalan dengan Dr. Levine, seseorang yang dengan setia menjadi pendengar Richie (karena memang itulah tugasnya, mencatat perkembangan setiap pasien yang berada di Lowell Detox).

Bagaimana kisah Richie selama berada di Lowell Detox apa sajakah yang dia hadapi di sana, mampukah Richie bertahan tanpa heroin, mengapa 7 hari terasa kurang untuk Richie? Baca kelanjutan kisahnya di buku ini. #avoidspoiler

***

Saya suka buku ini - meski sebelumnya membaca bagian awalnya terasa cukup berat, bukan karena beban bukunya tapi ceritanya sendiri tentang memoir seorang mantan pecandu narkoba - yang ada dipikiran saya "ini pasti cerita yang membosankan" tapi entah kenapa ya, saya tetap saja membaca buku ini hingga ke halaman akhir. Saya terkagum-kagum sendiri dengan tokoh utama dan orang-orang yang ada disekitar Richie (baik yang normal maupun para pecandu) terutama kehidupan mereka selama di Lowell Detox. Bagian yang paling membuat penasaran adalah kebenaran tentang apa yang terjadi di masa lalu Richie soal kematian ayahnya. Sekilas saya merasa bukan sedang membaca memoir yang saya baca tapi cerita misteri.

Saya benar-benar salut terhadap perjuangan seorang Richie untuk bisa kembali menjalani hidup sebagai orang yang sehat.

Dalam hati saya bertanya (bukan bermaksud membandingkan) apa para pecandu di seluruh dunia itu semua sama? Baik dari Indonesia maupun negara lain? Itu saja :)

PS: Novel anyar terbitan Gagas Media ini adalah murni sebuah cerita Memoar (red: catatan/ rekaman tentang pengalaman hidup seseorang - KBBI)

Poskan Komentar

Designed by FlexyCreatives