Review: The Immortals of Meluha


The Immortals of Meluha  
Penulis: Amish
Penerbit : Mizan Fantasi
ISBN-13 : 9789794337387
Halaman: 586

Wow! Amish Tripathi, sang penulis tahu dan paham benar bagaimana mengisahkan tokoh Shiva, seolah dia adalah saksi hidup yang benar-benar mengenal karakter dan perjalanan hidup Shiva, saya suka caranya bercerita. Saya juga berterima kasih ke Mizan, karena sudah mau menerbitkan buku ini, yang tentunya tidak terlepas dari hasil karya tangan-tangan ajaib para penerjemah (Nur Aini), penyunting (Agus Hadiyono) dan proofreader (Yunni Yuliana), yang sungguh berhasil menyampaikan pesan si penulis - two thumbs up for "the three musketer of Meluha's" - saya senang dan lega karena ada kesempatan untuk membaca buku ini, kalo bukan karena event di salah satu grup facebook, mungkin sampai kapanpun saya ngga tertarik baca buku ini, siapa sangka sekarang malah jadi ngga sabar pengen segera membaca kelanjutan bukunya, yah..karena seperti yang disampaikan halaman pembuka, The Immortal's of Meluha adalah novel trilogi, dua seri selanjutnya berjudul The Secret of Nagas dan The Oath of The Vayuputras. (hal. 14) Semoga Mizan bisa menerbitkan kelanjutan seri Meluha ini - secepatnya ^_^


***

The Immortals of Meluha mengisahkan tentang awal perjalanan Shiva sebelum dia menjadi seorang Mahadewa. Shiva hanyalah rakyat biasa yang memimpin salah satu suku di pegunungan Tibet, dia adalah seorang Kepala Suku Guna. Suatu hari datanglah utusan dari negara Meluha bernama Nandi, yang menawarkan Shiva beserta rakyat Guna, untuk hijrah atau pindah ke Meluha meninggalkan pegunungan Tibet demi kehidupan yang lebih baik. Tawaran tersebut diterima oleh Shiva dan pengikutnya.

Setiba di Meluha, Shiva dan rakyatnya diminta tinggal sementara waktu di penampungan untuk para imigran atau pengungsi, mereka diminta meminum ramuan oleh tabib setempat. Ayurvati, nama Tabib yang bertanggung memeriksa dan memastikan kesehatan seluruh rakyat Shiva dan juga mengamati reaksi yang ditimbulkan setelah meminum ramuan Meluha, belakangan setelah lewat beberapa bab - saya baru tahu bahwa minuman tersebut bernama Somra, minuman istimewa Meluha, yang dapat menunda penuaan dan mencegah penyakit. Malam harinya keanehan pun terjadi, seluruh rakyat Guna yang meminum ramuan Somra, mendadak sakit, badan mereka deman, semuanya - kecuali Shiva. Reaksi yang diterima Shiva malah sebaliknya, dia merasa badannya sangat bugar dan sehat, sakit ditubuhnya mendadak membaik, tulang bahu yang tadinya bergeser kini sudah kembali ke posisinya begitu juga jemari kakinya yang beku selama bertahun-tahun, sudah dapat digerakkan kembali. Hanya satu yang keanehan yang dirasakan Shiva, lehernya terasa sangat dingin.
Ayurvati, yang menyadari perubahan pada Shiva sangat terkejut bahkan hingga menangis, dia berseru "Sang Neelkanth telah tiba". Shiva rupanya dipercaya bahwa dia adalah Sang Neelkanth, penyelamat rakyat Meluha sebagaimana yang diramalkan beratus-ratus tahun lalu.

"Sang Neelkanth itu orang asing. Dia tidak berasal dari Sapta-Sindhu. Dia mendapatkan leher biru itu setelah meminum Somra" (hal. 180)
Setelah kejadian leher biru tersebut, Shiva diminta ke ibukota Meluha di Devagiri untuk menghadap Maharaja Daksha, diperjalanan menuju Devagiri - Shiva bertemu untuk pertama kalinya dengan Putri Sati. Secara tidak sengaja Shiva terlibat pertarungan dengan beberapa orang penjahat demi membantu sang Putri menyelamatkan diri, tidak disangka ternyata Sati juga jago bertarung, Shiva merasa ada getaran aneh dihatinya, nanti kalian akan tahu siapa Sati ini.

Setibanya di Devagiri, Shiva disambut oleh Maharaja Daksha, pemimpin negara Meluha. Sang Raja menyampaikan sekali lagi mengenai legenda Sang Neelkanth, dan secara terus terang meminta Shiva untuk menyelamatkan rakyat Meluha dari kehancuran. Menurut Daksha, kehancuran adalah ancaman teror terus-menerus dari para Chandravanshi yang menyerang para Suryavanshi secara tiba-tiba (dalam hal ini Suryavanshi adalah Meluha). Daksha ingin agar Shiva membantunya melindungi Meluha dari para Chandravanshi dan yang lebih mengerikan lagi - para Naga. Daksha percaya bahwa Chandravnashi dan Naga adalah sekutu, untuk itulah Sang Neelkanth sangat dibutuhkan, untuk menyelamatkan rakyat Meluha, entah dengan mukjizat apa yang dimilikinya.

Singkat cerita, Shiva memiliki seorang sahabat yang dikenalnya pada kunjungannya ke Gunung Mandar, bernama Brahaspati, dia adalah Brahmana atau bisa dibilang ilmuwan dibalik pembuatan Somra, dan Gunung Mandar adalah pusat pembuatan serbuk Somra. Saat itu Shiva sedang berada di Devagiri dan Brahaspati sudah dalam perjalanan menuju Gunung Mandar. Malam harinya Shiva mendapat kabar bahwa terjadi ledakan di Gunung Mandar dan tempat itu sudah hancur berkeping, di duga ledakan itu karena percobaan gagal yang terjadi pada Somra. Shiva bergegas ke Gunung Mandar, dia mencari-cari sahabatnya, Brahaspati, tapi tidak ada seorang pun yang bisa dikenali, tubuh mereka semua hangus karena ledakan, ditengah pencariannya Shiva menemukan simbol yang sangat dikenalnya. "Ini bukan kecelakaan" (hal. 447)

Disinilah kemurkaan Shiva dimulai. Apa yang menimpa Gunung Mandar dan sahabatnya, tidak bisa dimaafkan, paling tidak itulah yang ada dipikiran Shiva. Dalam waktu singkat, Shiva menginginkan peperangan dengan Chandravanshi, segala sesuatunya dipersiapkan, Shiva sadar bahwa dari segi jumlah, pasukan Suryavanshi sangat jauh di bawah pasukan Chandravanshi - untuk itu Shiva harus menemukan strategi perang yang tepat agar kemenangan berada di pihaknya.

"Tapi aku tidak menghancurkan kejahatan!" teriaknya "Orang-orang ini tidak jahat. Mereka hanya berbeda. Menjadi berbeda bukanlah kejahatan" (hal. 564)
***

Mungkin review ini kurang membuat penasaran, tapi saya memang tidak bisa memberi bocoran bagian-bagian cerita yang membikin penasaran, contohnya seperti, apakah Shiva dan Sati akhirnya saling jatuh cinta? Siapakah sang Naga? Pihak siapakah yang berhasil memenangkan Dharmayudha atau Perang Suci? #laluiniapa
Akan jauh lebih seru kalau dibaca sendiri dan menikmati jalannya cerita dari awal sampai akhir.

What I love the most from this book is the glosarium. Yah, jarang aja saya baca novel trus ada glosarium-nya di akhir halaman, kebanyakan novel-novel lain meletakkan catatan kaki untuk kosakata yang asing, tapi tidak untuk yang satu ini. Yay! Oia, satu lagi, finally, saya paham kenapa cover di buku ini memakai gambar Trisula.

Sebenernya ada juga beberapa keluhan saat saya membaca buku ini - saya kurang bisa memvisualisasikan atau membayangkan wujud kota Meluha, Devagiri, Swadweep dan kota-kota lainnya, padahal detailnya sudah cukup jelas kalo menurut saya. Entah, itu karena daya imajinasi saya yang dibawah rata-rata atau karena hal lain, so - demi kelancaran bacaan, saya membayangkan saja kalau wujud Meluha dan kota sekitarnya itu seperti yang ada di game Final Fantasy, case closed, right? Hehehe..

Novel ini bisa dibilang novel kategori fantasi pertama yang saya suka-banget, mungkin karena settingnya, you know - India, yes I am an India Lover (ngga saya bohong, saya cuma suka Shah Rukh Khan, the one and only - okay ini mulai melenceng) Tapi benar, saya suka kisah kepahlawanan India, nama Dewa-Dewinya, sama halnya saya suka dengan kisah yang bersetting Mesir dan Yunani (plus Dewa-Dewinya) - dan dibuku ini memberikan lebih dari apa yang saya harapkan (that's what makes reader happy), banyak diceritakan mengenai adat dan kebudayaan India, nilai-nilai moral dan kebajikan - dan ngga ketinggalan kisah cinta, uhuyhuy.. #apasih #abaikan

Pesan moral:
Baik atau buruk, itu tergantung dari sisi mana kita melihat. Pesan itulah yang berusaha disampaikan oleh penulis melalui tokoh Shiva.
"Sama seperti Suryavanshi dan Candravanshi yang saling menganggap jahat, begitu juga para Dewa dan Asura (Iblis). Jadi, jika kau membaca buku yang ditulis para Dewa, menurutmu para Asura akan digambarkan seperti apa?" (hal. 565)
"Menurutmu kenapa orang luar (Shiva) bisa menjadi Sang Neelkanth?"
"Agar dia tidak condong ke salah satu pihak"
"Tepat! Sang Neelkanth harus berada di luar semua ini. Dia, harus bebas dari prasangka" (hal. 566)
Well, I've nothing to say anymore, please happy reading and enjoy ^_^

4 dari 5 bintang
Very recommended book!
  1. Kirain ini karya anak bangsa lho :)) aku belum pernah baca fantasi india, karna sebaliknya, aku ngga suka hal2 berbau india :)) life of pi aja belum baca. nama dan istilah2nya sering susah nyantol di otak dan akhirnya merusak imajinasi hehe

    BalasHapus
  2. aku juga waktu itu ikutan event ini lho._.
    Wah, kita setipe suka dewa-dewaan, dan walaupun aku kurang suka india tapi bukunya emang worth it sih.

    BalasHapus
  3. Kayaknya buku ini boleh juga. Sempat mengira kalau Shiva di buku ini adalah Shiva yang punya kekuatan es (seperti di seri games Final Fantasy). Tapi Shiva di sini adalah dewa Shiwa.

    jadi penasaran, kenapa tidak diterjemahkan sebagai Shiwa ya? Secara di Indonesia kan familiarnya itu Shiwa?

    BalasHapus

Designed by FlexyCreatives