Review: Georgia's Kitchen

Judul: Georgia's Kitchen
Penulis: Jenny Nelson
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Alih bahasa: Siska Yuanita
Ilustrasi sampul: eMTe

Lagi dan lagi kesalahan yang terus saja dilakukan. I buy book's by its cover. Yah, mau gimana lagi, saya memang tergila-gila dengan cover buku yang cute - dan ini salah satunya, oh dan satu lagi, temanya, saya suka cerita yang mengandung tema makanan, restoran, dan cafe. Just love it!

Georgia Gray - adalah tokoh utama di cerita ini. Seorang chef berbakat dengan karir yang cemerlang, George atau Georgia (mereka ini satu orang, and she's not a man) bekerja di Marco, sebuah restoran terkenal di kawasan New York, meski posisinya adalah seorang Head Chef, Georgia tidak bisa dengan bebas berkreasi dengan menu restoran tersebut, karena si pemilik tidak suka dengan perubahan.

Suatu ketika "Marco" kadatangan tamu penting, Marcedes Sante - seorang kritikus makanan, yah, kritikus sangat ditakuti para pemilik restoran dan head-chef seperti Georgia, karena apa yang keluar dari bibir tipis para kritikus akan menentukan hidup dan mati karir seseorang (membaca bagian ini ingatan saya langsung beralih ke film kartun favorit saya Ratatouille). Seluruh staf dapur berusaha memberikan hidangan dan pelayanan yang terbaik pada Marcedes, tak terkecuali Georgia, diakhir hari nampaknya Marcedes cukup puas, baik dari pelayanan dan juga menu yang disajikan, Bernand, si Manager memberi kode kepada staf yang berada di dapur, bahwa hari ini mereka sukses, dan yakin akan mendapat ulasan "tiga garpu" yang artinya "waw, spektakuler" atau "very recommended food or place" dan yada.yada, kurang lebih seperti itu. Saya juga agak kurang paham mengenai istilah garpu disini - tapi kan yah, isitlah itu bisa beraneka macam, misal di beberapa restoran yang pernah saya datangi, mereka memakai istilah panci-penuh untuk makanan yg di rekomendasikan (bukan ulasan, oh iya..abaikan kalo begitu, sungguh abaikan saja)

Beberapa minggu kemudian, ulasan yang dibuat oleh Marcedes, muncul di surat kabar dan media, ternyata benar, mereka mendapat garpu dari Marcedes, bukan tiga - dua atau satu, tapi setengah, hanya setengah garpu..?! Karir Georgia, terjun bebas ke tanah, dia dipecat - meski semua orang di "Marco" tahu bahwa itu bukan kesalahan Head-Chef mereka, tapi apa mau dikata, ulasan kritikus adalah dewa mereka, jika sebuah restoran menerima ulasan buruk hanya ada dua pilihan, menutup restoran atau memecat head-chef mereka, dan yah tentu saja, memecat Georgia adalah tinggal pilihan satu-satunya. Belum berakhir kesedihan yang dialami Georgia, dia harus diputuskan oleh Glenn, tunangannya dan bertengkar dengan ibunya, di hari yang sama dia dipecat (wow, what a day?). Beberapa hari Georgia terpuruk dan nyaris putus asa, sampai akhirnya dia tiba-tiba teringat akan Claudia, sahabat dan juga mentornya dulu ketika di Culinary Institute disamping itu Georgia juga pernah magang di La Farfalla salah satu restoran milik Claudia di Italia! Georgia akan pergi ke Italia, menemui Claudia dan meninggalkan nasib buruknya di New York, untuk sementara, semoga..

Bagaimana kelanjutan nasib Georgia di Italia? Apakah dia sanggup bekerjasama dengan Claudia dan beradaptasi dengan lingkungan juga orang-orang yang baru? Apakah Georgia akhirnya menemukan cintanya di Italia ataukah di New York? Sanggupkah Georgia bangkit dan meraih impiannya, membuka restoran miliknya sendiri?

Baca sendiri novelnya, cukup menarik untuk dibaca sampai habis ^_^
Rating: 3/5

Sebenarnya, saya menyukai cerita ini, sayang hasil terjemahannya agak kurang memuaskan dan ada beberapa typo, tidak banyak, hanya sedikit typo, kemudian yang saya sedikit bingung, kenapa subtitlenya Georgia's Kitchen harus Selera Georgia - selera Gerogia dalam hal apa? Oh, dan satu lagi, ada banyak beberapa istilah yang tidak saya pahami, dan sedihnya tidak ada catatan kaki atau glossarium di akhir halaman untuk menjelaskan arti kata yang dicetak miring atau dialog dalam bahasa latin, so - saya hanya bisa memberi rating 3 untuk keseluruhan novel ini.

Average Recommended ^_^
  1. Wah tumben GPU terjemahannya kurang memuaskan. Aku juga ga suka tuh kalo ga ada footnote tentang istilah-istilah apalagi yang teknis macam istilah masak. Kan kita pembaca awam nggak ngerti. Hehe. Tapi kesian si Georgia..

    BalasHapus
  2. Aku sebenernya kepegen beli buku ini tapi ga jadi masuk tas belanjaan mulu. kayaknya mesti nyari ke rental nih ;p

    BalasHapus
  3. Ih sampulnya lucu. Kalau nggak baca review ini mungkin akan langsung di sambar kemudian menyesal. Hm.. untuk sementara masuk di list terbawa dulu aja deh..he..he.. (^_^)v

    BalasHapus
  4. Pas liat cover bukunya yang kece abis, langsung pengen baca.Tapi belum punya bukunya ...hahaha....Tapi pas ada yang bilang terjemahannya kurang asik,wah jadi kurang minat.Last list maybe ?
    ^^

    BalasHapus
  5. covernya lucu banget.... jadi kepengen >.<

    BalasHapus

Designed by FlexyCreatives