Review: Percy Jackson: The Lightning Thief


Judul: Percy Jackson The Lightning Thief
Penulis: Rick Riordan
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penerbit: Mizan Media Utama

"Kau akan pergi ke barat, dan menghadapi sang Dewa yang berkhianat
Kau akan menemukan yang dicuri, dan mengembalikannya dengan selamat
Kau akan dikhianati oleh orang yang menyebutmu teman
Dan pada akhirnya kau akan gagal menyelamatkan yang terpenting" - (hal. 174)

Cerita ini mengisahkan tentang Percy Jackson, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang mengidap disleksia (red: disleksia adalah sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis. Penderita disleksia secara fisik tidak akan terlihat sebagai penderita. Disleksia tidak hanya terbatas pada ketidakmampuan seseorang untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik tetapi juga dalam berbagai macam urutan, termasuk dari atas ke bawah, kiri dan kanan, dan sulit menerima perintah yang seharusnya dilanjutkan ke memori pada otak. Hal ini yang sering menyebabkan penderita disleksia dianggap tidak konsentrasi dalam beberapa hal. Dalam kasus lain, ditemukan pula bahwa penderita tidak dapat menjawab pertanyaan yang seperti uraian, panjang lebar.) sumber: wikipedia


Sengaja saya beritahukan pengertian disleksia disini, agar memudahkan untuk memahami karakter Percy Jackson. Suatu ketika, sekolah Percy yang saat ini (Akademi Yancy) mengadakan tour ke Museum Seni Metropolitan untuk mempelajari sejarah Yunani dan Romawi Kuno. Disinilah untuk pertama kalinya Percy bertarung dengan Monster dari Dunia Bawah, setelah pertarungan itu perlahan-lahan Percy mulai mengetahui identitas dirinya yang selama ini tidak diketahui olehnya.

Ibu Percy yang merasa bahwa nyawa anaknya terancam, terpaksa memindahkan Percy ke tempat lain, tempat paling aman untuk "Anak Blasteran" seperti dirinya, tempat itu bernama Bukit Blasteran -__-". Perjalanan Percy ke Bukit Blasteran bukannya tanpa hambatan, dia harus menghadapi beberapa "Makhluk Baik" yang mengakibatkan ibunya terbunuh di depan matanya. Belum hilang kesedihan akibat kepergian ibunya, Percy yang masih harus menyesuaikan diri dilingkungan yang asing baginya mendapat misi untuk mengembalikan senjata Zeus, berupa petir asali yang hilang dicuri oleh salah satu "anak blasteran" - tugas Percy menemukan petir itu dan mengembalikannya ke Zeus di Olympia sebelum titik balik matahari, jika melewati tenggat waktu yang diberikan, maka akan terjadi  peperangan antara Zeus dan Poseidon. (setelah membaca novelnya, nanti kalian akan tahu kenapa Percy yang harus mengemban misi ini).

Dengan dibantu oleh kedua temannya, Grover yang seorang Satir dan Annabeth putri Dewi Athena, Percy menjalankan misinya dengan tujuan ke Dunia Bawah, karena menurut ramalan oracle, kesanalah perjalanan yang harus ditempuhnya. Menemui Hades, Dewa penguasa Dunia Bawah, bukanlah hal yang mudah, karena para monster atau "Makhluk Baik" sudah siap menanti ketiga sahabat itu begitu mereka menampakkan diri.

Selain melawan para monster, ditengah perjalanannya Percy juga harus menghadapi Dewa Perang, Ares yang ternyata adalah salah satu orang yang terlibat dalam pencurian Petir Asali milik Zeus, lalu siapakah sebenarnya yang mencuri senjata Zeus tersebut, karena tidak mungkin para Dewa yang melakukan, baik Ares atau Hades.
"...seorang Dewa tak bisa merebut lambang kekuasaan dewa lain secara langsung - itu dilarang oleh hukum dewa yang paling kuno..." (hal. 166)
"Sebenarnya aku tidak mencurinya sendiri. Dewa mengambil lambang kekuasaan dewa lain - itu larangan besar. Tapi kau bukan satu-satunya pahlawan di dunia ini yang bisa menjalankan tugas..." (hal. 389)

Nah, kan..penasaran tidak? Siapa yang telah mencuri petir asali Zeus dan mengkambinghitamkan Percy, apa maksud semua itu? Baca deh novel.nya, seru kok ^_^

Rating: 3,5/5
Recommended


Sebelumnya saya sudah menonton film-nya begitu release di bioskop, tapi saya sendiri baru-baru ini baca novelnya, hehe..agak keterlaluan memang, mengingat novel pinjaman dari Mba Dewi ini sudah berbulan-bulan ada di rak buku saya. Kenapa saya baca novel ini? Awalnya sih memang saya kurang begitu tertarik mengikuti serial Percy Jackson, pertama karena saya sudah nonton filmnya yang menurut saya "kurang memuaskan", kedua, tokoh utamanya adalah seorang teenage berusia 12 tahun, jujur saja saya sudah berhenti membaca buku yang tokoh utamanya abege sejak lulus kuliah, tapiii..karena waktu itu saya lagi butuh rekomendasi buku mitologi yang ceritanya bagus, Mba Dewi menyodorkan si Percy Jackson ini, ngga tanggung-tanggung, Mba Dewi meminjamkan sekaligus 3 bukunya >> The Lightning Thief, Sea of Monster, dan The Titan Curse >> wew, PR yang harus segera diselesaikan nih.

Dan kesan saya setelah menyelesaikan buku pertama serial Percy Jackson ini - ternyata saya cukup menikmatinya ^_^ harus diakui memang, ceritanya cukup seru dan menarik untuk diikuti, saya suka karakter Percy - dia langsung jadi idola saya (mungkin karena selama saya membaca pikiran saya terkontaminasi sama tokoh di filmnya *uhuk*) saya suka Percy karena, dia smart, setia kawan dan suka bercanda - saya suka dialog-dialog antar tokohnya, alur cerita dan juga permasalahan tiap tokoh disampaikan cukup baik.

Meski dari segi cerita novel ini bagus, tapi entah kenapa saya kurang puas membaca hasil terjemahannya, yang menurut saya ada beberapa hal yang seharusnya dibiarkan dengan bahasa aslinya atau dicari padanan kata yang lebih sesuai, contoh: GPPH, menurut saya biarkan saja memakai istilah medisnya dalam bahasa asing - ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) ketimbang GPPH, dan juga istilah "anak-blasteran" (half-blood) dan "bukit blasteran" - half-blood hill, yah dan beberapa kata lainnya. Semoga ini bisa jadi masukan untuk Mizan dalam mennerjemahkan novel asing, terutama Genre Fantasi ^_^

Setting tempat cerita ini berada di Amerika, sebenernya saya lebih suka kalau novel fantasi itu latar tempatnya benar-benar 100% fantasi or khayalan (e.g Final Fantasy) entah kenapa kalau menggunakan latar yang ada di kenyataan, pikiran saya malah meronta-ronta ngga terima dan protes, "kok bisa sih di Amerika? Kok Los Angeles sih yang jadi pintu Dunia Bawah, kok begini kok begitu, kok bisa Gunung Olympus ada di Gedung Empire State, dan yada.yada..jadinya saya kurang "meksimem" menikmati ceritanya. Tapi ya sudahlah, itu hak prerogatif si penulis, selama novel ini bisa dinikmati (abaikan soal Amerika) berarti novel ini memang bagus, ya kan? Dan saya yakin kalau ini pasti novel yang bagus dan banyak peminatnya, karena Mizan ternyata sudah mencetak sampai tiga versi, iya TIGA versi serial Percy Jackson, keren kan? Kalau lihat dari covernya, saya lebih suka yang versi terbaru, tapi nanti aja deh belinya nunggu diskonan, yang penting kan sudah baca ^_^ #abaikan

Eniweee, saya sudah mulai membaca lanjutannya lho >> Percy Jackson: The Sea of Monster #teruskenapa #abaikanlagi
  1. Pengennnn Bacaaaaa........

    BalasHapus
  2. ayo baca terus, semakin banyak buku Percy yang dibaca, semakin jatuh cintalah kamu sama Percy XD *pengalaman pribadi.

    si Percy ini emang tipe yang gampang banget ngeluluhin hati siapapun yang membacanya, jadi gak rugi kalo baca seri ini sampe 10 buku XD *maniak Percy mencoba menggaet mangsa baru. *abaikan.

    BalasHapus

Designed by FlexyCreatives