[Gagas Debut] Ask The Author: Sky Nakayama


Hallo, ini pertama kalinya blog roempibuku membuat artikel "Ask The Author", senang rasanya bisa memasukkan hal baru ke blog ini, terima kasih banyak untuk #GagasDebut yang sudah memberi saya kesempatan menjadi salah satu Host GagasDebut. Yak! Kita langsung saja ya mengenal lebih dekat sosok Sky Nakayama. Sebelumnya saya pertama kali melihat nama Sky Nakayama ada di novel yang berjudul Sesuatu Yang Tertunda, menurut informasi sang penulis, novel The Way We Were ini adalah novel-nya yang ketiga, sekaligus novel perdana yang diterbitkan oleh GagasMedia.

Seperti apa sih hasil perkenalan saya dengan Sky..simak deh interview singkat saya berikut ini:


Nama Pena: Sky Nakayama
Blog: http://www.gadispenjajakata.wordpress.com
Goodreads: http://www.goodreads.com/author/show/6890063.Sky_Nakayama
Twitter: @ominousky
Hobi: Saya suka fotografi, menari, baca, pergi sendiri berjam-jam mencari ide, masak, dan bersih-bersih. Yang terakhir agak absurd tapi bisa bikin pikiran saya tenang :)
Penulis Favorit: Haruki Murakami, Lauren Oliver, Dewi Lestari, JRR Tolkien, Sara Shepard, Ann Brashares, Dean Koontz, Gayle Foreman

Terimakasih ya, sudah menyempatkan waktunya..
Seputar nama Sky Nakayama, apa ada yang alasan khusus kenapa memakai nama pena?
Sebetulnya sih nggak ada alasan khusus mengapa saya memilih untuk nggak pakai nama asli. Saya orangnya sedikit tertutup, karenanya foto di buku The Way We Were juga saya pilih yang blur hehe.

Oke, ngga papa, meski blur kamu masih kelihatan cantiknya, kok #mencobamerayu
Selain menulis, apa kesibukan kamu saat ini?
Sekarang saya sedang break kuliah, mengisi waktu dengan kerja sambil belajar bahasa Korea.

Kalo boleh tahu, The Way We Were ini novel kamu yang keberapa?
Kalau boleh jujur, saya juga nggak ingat novel The Way We Were ini novel keberapa yang saya selesaikan. Haha :) Tapi novel ini merupakan novel ketiga saya yang diterbitkan. Sungguh bersyukur rasanya karena ada yang mau memberikan kesempatan bagi karya-karya saya untuk lahir dalam bentuk sebuah novel. Waktu pihak GagasMedia menelepon untuk memberitahukan minat mereka untuk menerbitkan novel ini, saya sedang demam parah. Sedang antri di dokter untuk diperiksa, malah. Rasanya seketika saya sembuh saking semangatnya diberi kesempatan ini.

Di novel The Way We Were, kenapa kamu memilih tema tersebut dan darimana mendapat ide-nya, apakah dari kejadian disekitar?
Memilih tema tentang seorang gadis yang sedang belajar mengenal cinta di tengah-tengah kondisi keluarganya yang nyaris tercerai berai sebetulnya bisa dibilang terinspirasi dari pertanyaan-pertanyaan hidup yang banyak menghampiri saya ketika saya hampir tamat sekolah. Saya banyak menemukan pertanyaan yang tidak bisa saya jawab, serta bertumbukan dengan kenyataan hidup yang sungguh lain dari bayangan saya. Sempat kecewa dan sedih, tentunya. Namun ternyata saya tidak sendiri. Banyak orang lain di luar saya yang juga mengalami hal yang sama. Kesamaan inilah yang menjadikan dua orang asing kemudian menjadi teman. Dari situlah saya kemudian menghidupkan tokoh utama prianya, Oka. Sebuah pertemuan tanpa sengaja yang ternyata kemudian membawa Laut serta Oka ke dalam sebuah pelajaran hidup tentang cinta serta bagaimana mereka harus belajar menerima bahwa meskipun mereka tidak bisa memiliki apa yang mereka inginkan dalam hidup, hidup tidak lantas berhenti untuk mereka. Learning to let go. Sesuatu yang menurut saya mudah diucapkan tapi sangat sulit untuk dilakukan.

Selesai saya membaca The Way We Were dan melihat foto profil kamu, saya sempat kaget lho, karena rasanya saya melihat kemiripan tokoh Laut di foto itu, hehe..
Wah, ada kemiripan? Masa sih? Jadi penasaran kenapa kamu bisa berpikir begitu :)

Berapa lama proses menulis novel ini sampai menjadi sebuah naskah? Adakah kejadian menarik selama proses tersebut?
Penulisan novel ini sebetulnya kalau ditotal hanya sekitar dua bulan. Namun karena novel ini adalah novel yang pertama saya tulis setelah saya terserang writer's block super parah, saya sempat berhenti menulisnya selamanya hampir dua tahun. Ketika saya mulai menulisnya kembali pun, saya dipenuhi oleh keraguan. Saya merasa tidak ada yang spesial dari novel ini hingga bisa dibilang saya sempat tidak ingin menyelesaikan novel ini. Saya semakin ragu ketika satu per satu penerbit yang saya kirimi naskah mentah The Way We Were multi mengembalikan naskah saya. Akhirnya saya melakukan edit besar-besaran. Saya mengingatkan diri saya bahwa menulis adalah passion saya, dan karenanya saya harus menaruh hati saya dalam tulisan saya. Naskah ini mungkin belum sempurna, namun setidaknya saya memberikannya kesempatan untuk hidup dan berkembang. Karena pembelajaran yang paling baik itu kan datang dari pengalaman kita sendiri :)

Kejadian menarik sebetulnya banyak sekali.
Saya banyak mengalami transformasi dalam hidup saya saat saya dalam proses menulis, mengedit, hingga menunggu naskahnya dicetak. Singkat kata, saya patah hatiseperti karakter Lautsaya benar-benar bingung dan tidak tahu bagaimana caranya saya bisa keluar dari rasa sakit itu. Berkali-kali saya menyalahkan diri saya. Berjuta what if menghantui diri saya selama berbulan-bulan. Lalu saya bertemu dengan seorang teman baru. Sosok yang pemalu dan seringkali tidak nyaman berada di dekat seseorang yang tidak dikenalnya. Waktu berlalu, dan pada hari ulangtahun dia saya menyadari dia sudah tidak pernah gugup lagi di dekat saya. Dia memeluk saya hangat sewaktu jam menunjukkan pukul 12 malam. Ketika itulah saya tersadar, semua what if itu tidak ada gunanya. Rasa sakit itu tetap ada karena saya membiarkannya untuk tetap ada. Saya terus-menerus fokus pada sebuah rasa menyakitkan yang datang dari masa lalu hingga saya lupa bahwa diri saya yang sekarang bisa membuat seorang teman yang pemalu dan kikuk menjadi nyaman dengan keberadaan saya di sekelilingnya. Pengalaman inilah yang kemudian saya arahkan untuk membentuk plot The Way We Were.
Di novel ini, kamu banyak menggunakan istilah dalam bahasa inggris, boleh tahu kenapa?
Istilah bahasa Inggris sebetulnya tidak saya pakai secara sengaja. Saya sedang belajar untuk menguranginya sebisa mungkin. Saya senang belajar bahasa asing hingga kadang saya lupa bahwa sebetulnya ada istilah tepat yang bisa saya gunakan dalam bahasa Indonesia. Kacau, ya? Haha :p

Kasih tahu dong, apa impian terbesar kamu? ^_^
Impian terbesar saya berubah sepanjang waktu :) Mungkin karena saya orangnya indecisive banget.
Namun untuk saat ini, saya sedang mengejar impian saya untuk menjadi seorang fashion photographer. Oh, serta tinggal di atas toko es krim milik saya dengan seekor siberian husky :)

Siberian Husky?! Ohmy..itu anjing yang wajahnya paling cool menurut saya #kayaberaniaja
Mungkin ada pesan yang ingin disampaikan untuk pembaca dan penggemar novel kamu? Monggo lhoo ^_^
Bersyukurlah atas semua luka yang kamu miliki. Suatu hari nanti itulah yang akan mengajarkanmu untuk menjadi pribadi yang lebih bijak

Hehe :)
Terima kasih banyak atas waktu dan kesempatannya mengenal Sky lebih dekat ^_^
Ditunggu karya-karya selanjutnya..

Terima kasih kembali, Winda :)
Menurut Winda sendiri, novel The Way We Were ini gimana?

Jeng-jeng..tunggu postingan saya besok yah, pertanyaan Sky diatas akan saya jawab di postingan Review Buku The Way We Were. Ikuti terus perjalanan Gagas Debut Book Tour dan jangan lupa untuk mampir di blog masing-masing Host, karena pasti ada cerita seru dan menarik dari mereka, dan Giveaway tentunya ^_^

Oia, maaf lupa - mampir kesini kalau ingin tahu jadwal lengkap Gagas Debut Virtual Book Tour.

Sampai ketemu besok ^_^

Poskan Komentar

Designed by FlexyCreatives