Review: Montase


Judul Buku : Montase
Penulis : Windry Ramadhina
Penerbit : GagasMedia
Tebal : 368 Halaman

Rasanya sudah lama sekali sejak saya jatuh cinta terhadap karya penulis lokal..dan sekarang..lewat Montase saya bisa jatuh cinta (lagi)
Saya juga jatuh cinta dengan semua tokoh Montase

Entah bagaimana, Windry sukses membuat saya berlinangan air mata di akhir halaman, bukan karena ceritanya menyedihkan, tapi lebih ke perasaan - hmm, gimana yah? *hard to tell*

Tanpa bermaksud spoiler..
Cerita ini menceritakan tentang Rayyi, yang mengalami kesulitan mewujudkan impiannya sebagai pembuat film dokumenter karena dia adalah putra tunggal sineas ternama (dan terkenal) di Indonesia, Irianto Karnaya yang banyak membuat film-film dan sinetron dengan rating tinggi, tujuan hidup Rayyi berubah setelah dia bertemu dengan Haru Enomoto, seorang gadis berkebangsaan Jepang yang menempuh short course di IKJ, sosok Haru yang selalu ceria dan selalu melihat segala sesuatu dari sisi baiknya mampu membuat kehidupan Rayyi lebih berwarna.

"Selalu ada impian yang lebih besar dari impian lain, kan? ... Kita tidak hidup selamanya, Rayyi. Karena itu, jangan buang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak kita inginkan." (hal. 250) Haru to Rayyi

Jadi gimana cerita ini bermula?
Karena gagal di kompetisi berskala nasional, Rayyi memutuskan untuk tidak menyukai Haru, tidak sampai benci sih, hanya tidak suka..Rayyi hanya tidak habis pikir, bagaimana mungkin film yang diambil menggunakan kamera LomoKino bisa memenangkan lomba berskala nasional.

Ms.Roem: Gimana sih, tadi katanya Rayyi suka Haru?

Me: Eh, siapa yang bilang Rayyi suka Haru? Hayoo lirik lagi tulisan saya diatas *scroll* See, ngga ada kan?

Rayyi yang masih belum bisa menerima kekalahannya dari Haru di kompetisi film dokumenter yang diadakan oleh Greenpeace - makin senewen ketika dia harus satu kelas di mata kuliah Dokumenter IV dengan gadis itu, ditambah gerak-gerik dan tingkah laku Haru yang cerobohnya-minta-ampun, makin membuat Rayyi sebell (double L)

Tapi yah, yang namanya tidak suka kalau karena hal sepele, pasti cepet hilangnya, iya kan?

Rayyi mulai mengenal sosok Haru setelah mereka berdua kebagian tugas kelompok membuat film dokumenter untuk tugas kuliah Samuel Hardi.

Ms. Roem: Who is he?

Samuel Hardi? Dia idola Rayyi,  a best documenter movie maker from Asia, Rayyi mengidolakan Samuel Hardi berbanding terbalik dengan mengidolakan ayahnya sendiri, Irianto Karnaya. *namanya juga anak-anak* #abaikan
Perasaan iri dan tersaingi lama kelamaan hilang dari pikiran Rayyi, berganti dengan rasa - kagum dan sayang - duilee. Sosok Haru sangat menginspirasi Rayyi untuk mencapai dan mengejar apa yang selama ini menjadi impiannya. Being a documenter movie maker.

picture from here, edited by me -- Rayyi camera: Bolex

picture from here. edited by me -- Haru camera: LomoKino
Sayangnya, disaat Rayyi sedang berjuang menggapai impiannya menjadi seorang pembuat film dokumenter - Haru tidak ada disisinya, dia memutuskan kembali ke tanah kelahirannya, Tokyo. Bukan itu yang membuat cerita ini menguras emosi, percaya sama saya deh. Tapi bagaimana usaha Rayyi untuk menunjukkan pada Haru yang berada di belahan lain dunia, bahwa dia, Rayyi, sedang berjalan menuju impiannya, di bagian itu-tuh yang *duh-i'm speechless, baca sendiri deh*

Me: Kalau sampai novel ini dibikin film-nya, saya pengen yang meranin Rayyi itu Hardy Hartono dan peran untuk Haru itu Aelke Mariska *oke, ini kedua kalinya saya mensyen nama dia di blog ini, tapi sumpah saya ngga nge-fans kok, just like her face*

Ms. Roem: Ini kenapa malah bahas pemeran film sik? #sambitpakeBOLEX

'Rayyi, apa kau melihat sesuatu yang kulihat dari balik lensa kameraku?
'Sakura adalah ciri dari kehidupan yang tidak abadi'

Itu adalah salah satu kutipan surat Haru untuk Rayyi yang baru dikirimkan setelah lewat dari 2 tahun sejak surat itu ditulis oleh Haru, kenapa harus menunggu selama itu untuk mengirmkan sebuah surat? Well, kalau saya ceritakan disini, berapa banyak nyamuk yang akan memprotes tulisan saya? Kalau blog saya di banned gimana? Ah, tidak deh. Lebih baik kalian baca sendiri ceritanya - sangat disarankan (terutama yang diam-diam hobi fotografer atau merekam gambar - seperti saya ini *tunjuk diri sendiri*

Rating: 4,5/5
Very Recommended

What I like the most? The whole story.Saya suka hampir semuanya, yang ngga saya suka cuma hal minor yang bisa diabaikan, contoh: ilustrasi buku, yang memisahkan antar bab, saya kurang suka, jenis font-nya bikin ngga nyaman dan bulatan yang mirip bunga salju itu - selain ukurannya terlalu besar, agak kurang sesuai aja sama tema ceritanya.

Dari halaman 282-283; 286-287; 290-291 - cetakannya tembus kehalaman selanjutnya, jadi agak mengganggu penglihatan aja sih, untung cuma 6 halaman aja yang begitu, ehehehe.. *syukurlah*

Oia, satu lagi, karena saya ngga bisa bahasa Jepang, mungkin ada baiknya untuk istilah asing, bisa ditambahkan catatan kaki atau glossarium di akhir halaman, untuk menjelaskan arti kata yang maksud.

Well, sekian review saya, semoga bisa diterima yah ^_^
Have a nice day..
  1. Aku sukaaaa banget sama buku ini..
    Jatuh cinta juga..
    Bahkan sempet nangis, huhu
    Covernya bagus secara desain dan kertasnya..
    Sayang kemarin pinjem temen, harus segera punya aah~

    BalasHapus
  2. Aku sudah baca buku ini. Ceritanya baguuss, tapi belum jadi favoritku. Mungkin emang aku susah menemukan buku romantis yang bisa jadi favorit. Masalah selera aja. Tapi untuk covernya, sukaaaa banget!!

    BalasHapus
  3. wohoooo, direkomendasikan banget ya, kak?
    Sebenernya saya kurang begitu 'ngeh sama dunia fotografi, tapi biasanya kalo cara penulisnya asyik *apalagi sampe nguras airmata, saya bakalan mendadak suka *anak labil* hehehe

    Apalagi ada aroma kompetisi dan perjuangannya gitu. Jadi bener-bener pengen baca buku ini u.u

    BalasHapus
  4. Aku suka semua hal tentang Jepang. Terlebih aku sangat ingin bikin cerita dengan kisah yg ada kaitannya dengan dunia fotografer, basket, dan perfilman. Tapi karna disekelilingku jarang ada orang-orang yg berprofesi dibidang itu, aku agak kesulitan.
    Jujur, saya tidak mengerti arti dari judul. Saya hanya tertarik pada cover lalu membaca rreview, dan semakin tertarik karna tokoh Haru dari Jepang.

    BalasHapus
  5. Asikkk!!! Dua kali tergiur gara-gara review mbak, bukunya aku juga sudah punya. Sama seperti Camar biru, novel ini sering banget aku geser dari antrian. *Kasihan ya dia?" Kemarin sempat bertemu wawancara Mbak Windry, dari cara dia menjawab aku merasa akan cocok dengan gaya menulisnya. Dan dari mbak, aku makin yakin, novel ini selera aku banget.
    NB : Aku jg lebih cinta sama penulis lokal dr pada penulis luar. Mereka lebih bisa bikin aku mudah menyerap feel yang mereka gambarkan :)

    BalasHapus
  6. Montase :D Lewat novel ini jd pngen baca novelnya mbak Windry yg lain :D Ceritanya baguus :D Apalagi pas si haru duduk di antara lukisan bunga sakura ;D Tpi endingnya itu yg bikin sakit hati , nyesek, dan agak kurang suka :/ Entah kenapa saya agak kurang sreg sama novel yg sad ending :( kalau difilmin sih :D Aku setuju si haru nya aelke m. Tpi mas samuel hardi nya dperanin athalariq syah :)

    BalasHapus
  7. ada yg kurang mbak :D Suka banget pas haru kadang salah nyebutin namanya rayyi :D dan kecerobohannya :D Sumpah, gak bayangin ada gadis sembrono tp lucu :D

    BalasHapus
  8. Waahh, saya tergiur Mbak, kemarin gak sempet beli karena gak bawa uang, eh pas balikk lagi uda ludes-_-
    Saya suka review-an Mbak ini, kaya greget pengen ceritain langsung tapi nahan diri, hihi
    Ah *brb berburu buku ini >.<

    BalasHapus
  9. Hmm, selalu tertarik ma novel yang ada kaitannya ma dunia media seperti film, apalagi lihat cover ma judulnya yang unik en bkin inget terus,
    Review Mbak makin mendukung klo novel ini layak diburu *langsungbongkarcelengan

    BalasHapus
  10. wow reviewnya buat penasaran abis kak :) hehe :) jadi pengen sama bukunya kak :) like

    BalasHapus
  11. Aku juga suka pengarang Kak Windry waktu baca London juga suka banget .... seandainya aku jg bisa ngeblog kYa Mba Winda pasti seru bikin2 review ^^

    BalasHapus
  12. Congratz Kak! Review kakak sukses membuatku penasaran sama novelnya :3

    BalasHapus
  13. reviewnya berhasil bikin aku pengen lari ke toko buku ngubek2 nyari bukunya,kereeenn

    BalasHapus
  14. Lihat gambar kamera punya Rayyi sama Haru jadi langsung keinget sama mereka dan tiba-tiba berasa nyesek :3
    Paling suka novel yang bitterweet kayak gini. Manis, tapi nyesek u.u

    BalasHapus
  15. Saya penasaran sama semua karyanya windry setelah saya baca Orange. Dan novel ini jadi salah satu book wishlistnya mbak. Baca review mbak jadi makin penasaran :D

    BalasHapus

Designed by FlexyCreatives