Review: Selamat Datang, Cinta


Judul: Selamat Datang, Cinta
Penulis: Odet Rahmawati
Editor: Mita M. Supardi
Desain Sampul: Levina Lesmana
Penerbit: Gagas Media

Ahh..saya suka sekali cover-nya..bahkan langsung saya sampul plastik sebelum keduluan kotor atau 'kecelakaan lain menimpa' , ketekuk misalnya. Tapi, sayang yah..kesukaan saya tidak sebanding dengan jalan cerita atau isi bukunya #nangisdipinggirjurang

Cerita ini menceritakan tentang, Alona, seorang wanita yang kesepian karena ditinggal pergi oleh orang-orang yang dia sayangi, dan Bastian, sahabat Alona yang memiliki masalah keluarga, dan begitu membenci Indra - Ayahnya.

#glek #minumsunlight

Suatu hari Bastian kabur dari rumahnya yang di Jakarta ke Yogyakarta, tempat sahabat masa kecilnya tinggal. Alona. Hubungan mereka tetap akrab meski ada perbedaan jarak tempat tinggal. Bastian kabur dari rumah karena ada masalah keluarga yang harus dihadapinya, hubungan dengan Sang Ayah sangat tidak harmonis, tidak pernah harmonis malah, dan di malam sebelum kepergian Bastian dari rumah, anak dan ayah itu bertengkar hebat.

Well, singkatnya, Bastian menginap di rumah Alona sampai beberapa hari, hingga Dira, ibu Bastian datang kerumah Alona, untuk mengajak anak semata wayangnya itu pulang ke Jakarta. Disisi lain, Alona memiliki masalah yang membuatnya kehilangan keceriaan selama 3 tahun belakangan ini. Selain ditinggal pergi oleh kedua orangtuanya dalam kecelakaan mobil - dia juga harus di tinggalkan begitu saja oleh Galih, kekasih yang berjanji akan menikahinya. Lengkap sudah sakit hati yang dialami Alona, kesepian dan kesedihan rupanya enggan beranjak dari kehidupan Alona, hingga Bastian datang ke rumah Alona dan mampu menghibur dirinya. Ehm, lebih tepatnya saling menghibur. Alona to Bastian, Bastian to Alona. Setelah ini, pasti sudah bisa menebak bagaimana ending cerita ini, kaaann?

"Aku pernah mencintai kamu dengan cara yang paling sederhana. Maka aku pun ingin melupakan kamu dengan cara yang sama" (hal. 148)

"Begitupun dengan kehidupan, kita butuh rasa pahit untuk tahu rasa manis itu seperti apa. Kita butuh hal lain untuk mengerti arti kehidupan. Senang, sakit, sehat, bahagia, senyum, tawa, menangis, kecewa, kebersamaan, dan kehilangan..." (hal. 114)
Jika kamu sedang sengang dan butuh bacaan untuk melengkapi RC, silahkan baca buku ini. Oia, bagi yang berminat mendapatkan buku secara GRATIS dari Saya - jangan lupa ikuti giveaway yang akan saya adakan yah, kapan? Besok! Tunggu postingan saya besok, wokeh.

Rating: 2/5

Saya kesulitan harus mereview apa dari novel yang covernya bikin saya jatuh hati ini. Oia, isinya tentu saja.
Ini pendapat saya mengenai novel ini..Saya kurang suka. Kenapa?
Saya ngga suka orang tua dipanggil hanya dengan nama depan mereka. Narator memanggil Ayah dan Ibu Bastian dengan menyebut nama depan mereka, tapi tidak dengan Nenek Bastian. Which is weird #imo.

Belum sempat Bastian menamatkan ucapannya, sudah terhenti dengan mendaratnya sebuah pukulan keras dari Indra di pipi kirinya... (hal. 41)

Dira menggelengkan kepala. Batinnya begitu hancur karena semua orang berbicara dengan nada tinggi. Karena anak dan suaminya sama-sama tidak peduli dengan perasaan Dira yang terluka. (hal. 41-42)
Kedua, novel ini minim dialog - amat sangat minim. Justru yang banyak adalah dialog dengan diri sendiri, seolah masing-masing tokoh sibuk berbicara dengan kembarannya.
membaca novel ini saya merasa di ceramahi #tepoktangan #hore dan sepertinya penulis berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan pembaca dan berkali-kali mengingatkan, bahwa "kehidupan itu harus disyukuri, janganlah bersedih dengan segala kemalangan yang menimpa kita"

Satu lagi, satu saja..
Inkonsistensi, atau ketidakselarasan antar paragraf.
Di bab tujuh (hal. 89), dijelaskan bahwa Bastian mematikan ponselnya karena dia sedang tidak ingin diganggu oleh email dan sms yang masuk, karena Bastian sedang dalam perjalanan menyelesaikan masalah keluarga, tetapi di hal. 93, ada bagian dimana Bastian sibuk membalas BBM dan SMS dari teman-temannya di Jakarta dan Alona, sesaat sebelum dia bertemu dengan seseorang. HEEK! -- jidat saya langsung berkerut. Gimana ceritanya, bisa ngga sinkron begini? Lain soal kalo ponsel Bastian itu lebih dari satu, jadi bisa jadi saya yang salah paham.

So, intinya, saya tidak menyalahkan penulis yang membuat cerita sepanjang ini, yang membuat saya kelelahan-ngos-ngosan membaca sampai akhir. Karena dibalik itu semua ada pihak-pihak yang seharusnya bisa memberi masukan kepada penulis, right? Apa yang sebaiknya di perbaiki, di tambahkan atau dihilangkan - dan beberapa hal lainnya, sebelum sebuah naskah ini sampai ke tangan pembaca seperti saya.

Well, cukuplah sekian, saya ngga ingin dianggap berlebihan dalam membuat review.
At least ada bagian yang membuat saya menyukai novel ini - meski itu hanya cover dan ilustrasi.nya ^_^

Good luck to Odet, ditunggu karya-karya lainnya ^_^
Semangat yaaahh..
  1. covernya memang juara.. seperti bukan novel indonesia.. liat reviewnya aku jadi bersyukur nggak beli novel ini kemarin :D

    BalasHapus
  2. Kenapa banyak bener novel yang berlatar belakang keluarga yang ga harmonis?
    Sedih T,T

    BalasHapus
  3. Wah novel dengan cover cantik, sini-sini sayang aku timbun kamu di rak bukuku ;p

    BalasHapus
  4. loh. aku malah kurang suka sama covernya *digampar* ._.v
    Belum pernah baca, punyapun nggak. Tapi bolehlah kalo dapet gratisan._. *digampar lagi*

    BalasHapus
  5. Aku sangat tergiur sama covernya mbak. Tapi, saat baca beberapa review, aku mengurungkan untuk membeli novel ini. Kayaknya, ceritanya sinetron banget ya mbak?

    BalasHapus
  6. Kemarin pas ke toko buku aku mau beli buku ini Mbak, abis terpesona sama cover plus sampul belakang. Wah kak winda jago nih, teliti banget, masa bisa gak konsisten gitu :D
    Kita sehati Mbak, gak suka baca novel yang kebanyakan narasi (apalagi yang muter-muter tapi intinya cuma satu-_-), yang manggil ayah/ibunya tanpa embel-embel "Bapak/Ibu".
    Suka kak sama review-an ini ;)

    BalasHapus
  7. covernya bagus bgt! tapi ceritanya rumit ya. mungkin penulisnya kebawa gaya bule, gak pangggil mama-ayah tapi langsung nama orang tua, hehe. Itu namanya aja udah bule bgt, alona dan bastian. Eh bukan bastian-nya coboy junior yaaa...

    iya sayang banget kalau narasinya kebanyakan. bagi yg gak doyan, langsung dilempar tuh buku. pantesan kamu kasih nilai 2/5. Untungnya covernya mmbantu dalam pemasaran buku ini, bagus bgt sih >.<

    BalasHapus
  8. Covernya bagus. Saya sukaaa. Sayang gak punya bukunya di rak buku sendiri. :( Terima kasih untuk reviewnya. Nanti saya coba cek di toko buku. :)

    BalasHapus
  9. *manggut-manggut baca review-nya*

    Saya belum punya buku ini. Apakah nanti pendapat saya akan sama setelah baca buku ini juga?

    BalasHapus
  10. cukup kaget dengan ratingnya 2!! woow.. aku jalan2 di blog lain, ratingnya lumayan, ya namanya selera. tapi bener sih, kalau orangtua dipanggil dengan nama depan, rasanya kurang sopan dan nggak indonesia banget :D

    BalasHapus
  11. Kalau yang ini kebalikan si "Camar Biru". Aku justru ingin baca novel ini karena (SETUJU SAMA KAKAK) covernya sangat "mengundang", meski akhirnya tetep nggak terbeli berbenturan dengan uang saku -___-

    Dan saya serius kaget dengan review yang Kakak berikan, mengingatkan saya pada salah satu judul yang saya baca kapan hari. Dan saya jadi sebel sendiri kalo inget novel itu /kembali ditabok penulis/ thank's review nya, Kak.. cukup jadi bahan pertimbangan apakah nanti saya benar-benar mau beli buku ini hehe

    BalasHapus
  12. Seperti halnya kak Winda, saya pun sempat tertipu dengan kover yang teramat manis ini. Dan kemudian di kecewakan sama isinya yang so-called-biasa-aja banget. Ih..

    BalasHapus
  13. Emang cover di novel Odet ini manis sekali, saya juga suka. Tapi sama dengan review-review lainnya, semuanya agak kecewa. Kata odet sih emang masih banyak yang typo juga. Tapi saya salut, dia udah cetakan kedua, hehee. Dan, saya belum beli-beli bukunya :D

    BalasHapus

Designed by FlexyCreatives