Review: My Cup of Tea

 

Judul: My Cup of Tea
Penulis: Nia Nurdiansyah
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 354 Halaman

People who are meant to be together will always find their way back to each other.
They may take detours in life but they’re never lost .

Kisah ini bercerita tentang kisah cinta Shereen (tanpa Sungkar), Dipi, Artega (yang Raja Tega) dan Park Min Hoo (bukan Lee Min Ho, meski namanya mirip, mereka bukan sodara).

Dipi dan Shereen adalah sahabat lama, semenjak mereka kecil. Shereen yang memiliki selisih umur 3 tahun dengan Dipi seringkali bertindak sebagai Kakak yang ingin melindungi Adik kecilnya. Kebiasaan itu terbawa oleh Shereen hingga mereka dewasa. Tapi, tidak sama dengan Shereen, Dipi tidak mau terus-terusan di perlakukan sebagai adik kecil oleh Shereen, Dipi ingin menjadi orang melindungi Shereen bukan sebaliknya, karena Dipi terlanjur jatuh cinta kepada sahabat masa kecilnya itu.

Opps! Indikasi spoiler. Ngga juga, pembaca manapun pasti udah bisa menebak, klo laki-laki dan perempuan yang berteman apalagi bersahabat bertahun-tahun, itu kemungkinan besar ada salah satu yang naksir or jatuh cinta. Ngga percaya? Buktikan sendiri deh, karena aku sih udah pernah membuktikan.

Okay back to topic.

Shereen adalah seorang Desain Interior yang mempunyai karir dan pacar yang menawan, namanya Artega. Shereen begitu memuja Artega dan dia sangat tergantung padanya, sebenarnya juga pada Dipi (klo aku boleh menambahkan). Artega, dia adalah kekasih Shereen yang karirnya sangat cemerlang dan super sibuk, saking sibuknya dia jarang menghabiskan waktu dengan Shereen, jika sudah begitu dia (Shereen) akan kabur dan berkeluh kesah ke Dipi.

Dipi sendiri adalah seorang pastry chef yang pernah bekerja di hotel bertaraf international, yang rela meninggalkan karirnya dan memilih membuka sendiri toko kuenya bersama kekasihnya, Trista. Sayangnya, toko kue itu sendiri, SerendipiTea, dibiarkan tak terurus dan akhirnya tutup, karena Dipi merasa tak berdaya semenjak diputuskan oleh Trista, dia kehilangan passion.nya.

Singkat cerita, Dipi dan Artega sama-sama mendapat beasiswa atau kesempatan belajar di Korea Selatan, diwaktu yang hampir bersamaan. Artega, menempuh pendidikan untuk menambah daftar panjang gelarnya, dan Dipi, demi mengejar apa yang menjadi mimpinya selama ini, memasarkan snack traditional Indonesia ke mancanegara, and guess what, he made it!

Bisa dibayangkan gimana perasaan Shereen ditinggalkan oleh kedua pria-nya?


So, selepas beberapa bulan berlalu Shereen memutuskan mengunjungi Artega ke Korea, dan sayang sekali yah..bukan kejutan menyenangkan yang diterima Shereen disana, dia bahkan harus segera pulang ke Jakarta tanpa sempat membongkar isi kopernya, tanpa sempat bertemu Dipi yang berada di langit yang sama dengannya.

Disinilah sosok Park Min Hoo, muncul di kehidupan Shereen, dia adalah Duda Tampan yang kebetulan satu pesawat dengan Shereen, Park Min Hoo yang sedang melakukan perjalanan bisnis ke Jakarta, merasa tergerak (dan tertarik) pada Shereen yang kala itu sedang sedih. Kehadiran Park Min Hoo, mampu mengisi ruang kosong di hati Shereen, hingga suatu ketika dia mengajak Shereen untuk bertemu dengan kedua orang tuanya di Korea. And off we go! Shereen kembali mengunjungi Korea untuk kedua kalinya.

Di kunjungannya yang kedua inilah, cinta dan kemantapan hati Shereen, kembali diuji. Siapakah yang akan menjadi penghuni hatinya, akankah dia memilih Dipi, Artega atau Park Min Hoo..? Baca kelanjutannya di novel ini ^_^

pic from here, edited by me


My Thought:

Aku suka judulnya, aku suka covernya, aku juga suka warna kertasnya #plak
Aku paling suka sama ilustrasi yang memisahkan antar bab juga beberapa pencil sketch (gambar) yang bikin aku kelaparan, I love sweets. #infopenting

Aku suka kutipan-kutipan lagunya, tapi ngga terlalu suka juga sih #plinplan, selain karena itu lagu bahasa inggris, aku juga ngga tahu lagunya #plak (ya ada sih beberapa yang aku tahu) dan penempatannya di bagian paling atas di awal bab, itu somehow agak annoying, ngga enak dilihat aja gitu, mungkin karena backgroundnya terlalu gelap jadi font-nya ikutan kurang jelas, ane minus mas' so ini penting banget #nggaknyante

Jujur, aja, aku boring setengah mati di bagian Secret Garden itu, bagian yang menceritakan masa kecil Shereen dan Dipi, terlalu memakan banyak porsi (porsi aku aja cuma sepiring #hoey). Kepanjangan lah klo menurutku. Atau kalo memang harus di ceritakan, dibagi aja porsinya, disisipkan tiap 3 bab, atau gimana gitu, biar ngga boring. Sampai sekarang bagian yang masa kecil itu belum aku baca lagi. Not interested.

Dari dulu aku selalu suka dengan novel yang membawa dunia kuliner di dalam ceritanya. Bukan karena aku doyan masak (iya, itu sih udah jelas banget kan?) tapi karena aku suka makanan manis, novel ini juga membahas soal makanan manis kan? #malahnanya, Unfortunately, porsinya kurang banyak..yang banyak malah ngebahas Shereen and her personal life. Ugh! Aku kan pengen lebih banyak soal Dipi dan makanan-nya (ya klo gitu loe aja yang nulis novelnya Win #heh). Oke abaikan yang barusan. Intinya aku sih suka sama novel ini. Lebih tepatnya, soal makanan.nya yang aku suka - karena kalo yang lain, itu kurang lebih sama seperti novel-novel lainnya yang temanya "sahabat saling jatuh cinta", kurang "sesuatu" buatku.

Butuh referensi bacaan sejenis:
- Camar Biru by Nilam Suri
- Hatimu by Salsa Oktifa
- Selamat Datang, Cinta

Oia, info aja, novel diatas itu semua adalah hasil karya penulis yang masuk kategori Gagas Debut (bahkan novel inipun Gagas Debut) - sayang novel Hatimu tidak tuntas aku baca karena keburu kecapaian dengan temanya, setelah sebelumnya baca Camar Biru dan Selamat Datang, Cinta. So, buku itu aku hibahkan akhirnya (tanpa sempat dibaca sampai habis)
  1. Muahahaa, aku tadi baca resensi ini pas buka blog agre BBI, Mbak, dari alinea awal udah bikin ngakak! Kocak cara ngulasnya tapi tetep informatif. Hehehe. Btw dari tiga buku yang dijadikan perbandingan, cuma Selamat Datang, Cinta yang belum aku baca, dan aku malah suka sama Hatimu; meski tetep yang paling bagus yang Camar Biru. Hehehehe.. ^^
    -dinoy.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dinii..maacih udah mampir *senangnyah kedatengan tamu* #apasihwin
      Setuju, Camar Biru baguuuuuusss (pake banget) aku juga suka ^_^

      Hapus
  2. Banyak yang kecewa dengan buku ini. Sayapun mengurungkan untuk tidak memilih :)
    Thx reviewnya

    BalasHapus
  3. Ehh... itu akhirnya milih siapa? :O

    BalasHapus
  4. Jadi ragu-ragu beli novelnya ^_^ Dulu sekali, pernah baca novelnya Mbak Nia Nurdiansyah yang 29 1/2 hari. Tertarik sama blurbnya. Dan ternyata konsep penceritannya bagus. Yang bikin saya excited, desain plotnya dengan small world phenomenon. 5 degree of separation, gitu. Terus juga, narasinya lebih dominan ketimbang dialognya. Tapi entah salahnya di mana, itu buka jenis narasi yang bikin saya betah ngikutin. Sampai sekarang, belum kepikiran lagi buat baca karyanya :'(

    BalasHapus
  5. Berharap shereen milih Dipi, secara mereka udah akrab sejak kecil. Thank's review-nya kak :)

    BalasHapus
  6. Wahh,, 3 pri 2 dunia 1 wanita...hehe

    Review-nya bikin aku ngiler pengen ngebaca lanjut ceritanya.

    Tapi ada baiknya kakak tambahkan beberapa dialog, biar ada pengenalan situasi dan biar pengunjung yang baca makin penasaran dan beberapa quotes yang ada di novel tersebut *hanya saran*.
    But Over all, bahasa yang kakak gunakan cukup sederhana dan lucu :D

    BalasHapus

Designed by FlexyCreatives