Now, Book Hoarder - Tomorrow?

Saya lagi pengen curcol nulis sesuatu agak OOT dari yang biasanya saya tulis, masih seputar buku sih, cuman ini lebih ke personal thought aja.
Jujur, bulan ini kondisi dompet saya mendekati ajal, secara saya tipikal impulsive buyer dan sudah dapet stamp CERTIFIED dari orang-orang sekitar, tanya aja - mereka pasti setuju kalau saya memang begitu adanya. Tapi, tapi, tapi..saya kelewat impulsive jika itu menyangkut membeli BUKU, kalau yang lainnya seperti baju or other things like that, saya bisalah nahan diri #ciyusan #hooh.

Kegilaan menimbun buku ini diperparah dengan saya punya toko buku online, yang mainly dipegang sendiri oleh saya - belum ada sih yang mau repot-repot beli saham di tempat ane, soon maybe #tsah #mimpisiangbolong. Jadi, saya satu-satunya yang mengurus inventory juga keuangan-nya (pantesan). Inventory maksud saya, buku apa aja yang harus dibeli untuk dijual lagi, ATAU dibeli untuk dibaca ditimbun sendiri (iya, saya nggak salah coret kok, itu benar adanya). Jadi semenjak punya toko buku online, tumpukan buku di timbunan juga makin aduhai. Meski belum setinggi Mount Everest #amitamit #knockonwood, tetep aja saya sedih lihatnya.

Sedihnya kenapa? Well, kecepatan membaca dan mereview saya, tidak berbanding lurus dengan kecepatan saya membeli buku. Jelas sedih dong, melihat buku sebanyak itu cuma buat ditempelin debu (maksudnya bukan debu beneran, ini bahasa kiasan aja, you know kan?) Sekarang kalo pas lihat dompet lagi sekarat dan tumpukan buku belum terbaca yang sebanyak itu, saya jadi agak melankolis.

"Berapa banyak yah itu klo di uangkan?"
"Duh, tahu gitu aku kemarin nggak beli buku dulu"
"Gajian diundur nih, aduh besok makan pakai apa yah?"

Tuh, pikiran-pikiran lebay mulai bermunculan. Coba tenggok pikiran saya jalan kemana lagi setelah ini..

"Kira-kira kalo aku tetep terus seperti gini, kapan coba bisa nabungnya?"
"Jangan-jangan niat mau beli rumah sama mobil bisa gagal nih, hanya gegara nimbun buku mulu"
"Trus klo nanti anak udah gede, punya biaya buat sekolah nggak yah?"
"Klo misal Ayah tiba-tiba di pecat dari perusahaannya, nasib nimbun buku aku gimana dong?" #hush #dikeplakpakebakiak #dijorokinkeaspal #sadis

Okey, stop it. Saya berpikir terlalu jauh or not.
Etapi, seriusan - kalu bukan karena dompet saya yang mendekati ajal itu, mungkin saya nggak akan berpikir sedramatis ini. This time, it hits right on the core. Saya, 29 tahun, seorang ibu dan istri juga, plus as a working mom, tapi tabungan yang bahkan untuk DP beli rumah aja nggak punya. Gimana kalo nanti pensiun dan nggak bisa cari duit lagi, nasib anak saya gimana, coba? #nangisditengahjalan



Duh, tadi tabungan sekarang pensiun - makin dipikir makin puyeng nggak sih?
Sorry sebelumnya, mungkin postingan ini mulai ngebetein buat kalian. #yaeyalah
Oke, saya maafkan #eh.

Saya hanya kepikiran itu aja sih, dan mulai bertekad baja, sekarang sebisa mungkin mengurangi membeli buku, minimal membaca 3 (tiga) buku di timbunan dulu sebelum nambah 1 buku baru. Trus, nabung dan investasi, juga harus mulai dipikir soal pensiun tadi - emang umur manusia nggak ada yang tahu, tapi paling tidak kita punya rencana daripada nggak sama sekali. We're bookworm, I am bookworm. At least we should have one future plan for our lives. Terus hubungannya sama bookworm apa? Yah, dihubungin aja, masa sih bookworm nggak ada "nilai lebihnya" dibanding sama yang bukan bookworm, soal planning tadi maksudnya? Tabok gue, caci gue, do whatever. Tapi saya seriusan lho soal satu ini.

Dibilang menyesal iya, seandainya dari dulu saya sudah mulai nabung atau semacamnya, mungkin sekarang lebih mudah, but hey! 29 tahun, masih belum terlambat rasanya, insyaallah masih ada sisa umur kurang lebih 25 tahun lagi sebelum saya benar-benar nggak boleh kerja - you know, pension.

I should start it now, you too..right?

Eits, tunggu dulu - saya belum selesai..
Terima kasih untuk yang sudah rela baca sampai akhir postingan, sebagai ucapan terima kasih saya mau adain GIVEAWAY untuk kalian yang sudah bersedia membagi kisahnya, komentar atau curcol di sini (iya, khusus di postingan ini aja), nanti akan dipilih dua komentar terbaik yang berhak mendapatkan voucher BUKU, senilai 100.000 (member BBI) dan 50.000 (non-member).

Nggak wajib untuk share GIVEAWAY ini (tapi akan ada poin tambahan, if you did that, hehe)

Have a nice day ^_^

http://bit.ly/BNI_Simponi
  1. Hm, asyik nih baca artikelnya Mbak Winda. Aku jadi ikutan ngaca lho sesama penimbun buku. >.< Kerja bertahun-tahun, dan selalu punya alasan buat menghamburkan uang dan melupakan niatan nabung. Dulu sih alasannya suka tergoda promo murah tiket pesawat terbang, buat traveling gituu. Sekarang sih gara2 suka beli buku. Alasannya, kalo nggak bagus nih, mumpung ada diskon nih, mumpung ada obralan nih, atau mumpung temen jual kolprinya murah dan bagus... atau kombinasi dari semuanya. Hahaha. >.<
    Sekarang kalau lihat timbunan buku, seneng2 aja karena pilihan bacaan berlimpah nggak takut bosen. Tapi pas baca jadi kayak ada kewajiban pengin cepet2 nuntasin timbunan. Merasa bersalah nganggurin buku2 itu. Hiks... hiks....
    Habis baca artikel ini aku makin menguatkan niat untuk berhemat termasuk soal belanja buku dan pastinya niatin nabung buat hari depan yang penuh harapan. *yang penting niat dulu kan* wkwkwk. Thanks for sharing, Mbak Windaa ^_^v

    BalasHapus
    Balasan
    1. yay! semoga kita beneran bisa insap ya Din (buat nabung-nya) bukan buat nimbun-nya #heh #dikeplak #dibuangkedubai

      ngomong-ngomong klo ada buku Haru yang bagus (dan belum aku baca) pinjemin aku dwongs.. *ini bisa masuk salah satu cara nggak beli buku, kan?*

      Hapus
  2. Emang enak ya kalo blog-walking ke sesama pecinta buku sekaligus penimbun buku. Rasanya kayak dapet teman senasib. Teman seperjuangan. Ngomong-ngomong soal penimbun buku, belum pantas rasanya menyandang 'bookworm' deh namanya kalo di rumah gak punya timbunan buku yang belum dibaca. Beli doang, koleksi doang, bacanya ntar-ntaran aja. Nanti pas libur panjang. Gak tahunya pas libur, yang dibaca cuma satu dua doang, padahal timbunannya selangit.
    Dan gak terkecuali saya sih kak. Nah, soal timbunan buku ini, saya punya cerita sedikit. Hehehe.
    Jadi ceritanya tempo hari saya kencan nih sama pacar. Nah, karena kelaparan abis nonton, makanlah kami. Pas semantara nunggu pesanan, saya nyinggung-nginggung dikit soal novel baru yang jadi inceranku. Sekalian kode ke dialah ya. *ditoyor*
    Dan seperti biasa dia cuma geleng-geleng kepala kalo penyakit bukuku sudah kumat. Dan entah ide briliab dari mana, dia tiba-tiba nyelutuk:
    "Ya sudah, saya bakal beliin novel baru inceran kamu itu dengan syarat habiskan semua timbunan buku di rumah trus bikin review-nya masing-masing. Tapi jangka wkatunya cuma sebulan.
    Sempat syok sih. *lebay*
    Tapi kemudian saya mikir: WHY NOT? I would do anything for books.
    jadi dengan pedenya saya mengiyakan tantangan dia tanpa mikir panjang lebar.
    Apa yang terjadi kemudian?
    Seminggu setelah tercetusnya tantangan itu saya belum menyentuh satu bukupun. Karena kesibukan & terlebih karena menunda-nunda. MInggu kedua saya baru menyelesaikan 1 buku. Trus kemudian saya mikir, kalo nunda-nunda terus gini, gimana bisa saya dapetin novel inceran saya? Dengan begitu saya membulatkan tekad untuk menyelesaikan tumpukan itu dan menuntaskan tantangan si pacar.
    Saya sampai begadang & terkantuk-kantuk di kantor siang harinya. Dan di penghujung bulan meskipun rasanya ngos-ngosan, akhirnya saya bisa menyelesaikan 6 novel dalam sebulan. Rekor fantastis sepanjang saya membaca buku. Biasanya paling banyak cuma 2 atau 3 buku sebulan.
    Saya mati-matian mem-push diri, bukan karena saya gak mampu beli bukunya sendiri, For God's sake, saya kerja, alhamdulillah bisa nyari duit sendiri, tapi senang aja rasanya bisa menuntaskan tantangan dan saya punya alasan kuat untuk mengurangi timbunan bukuku. Dan tebak, pada akhirnya, sebagai hadiahnya saya gak mendapatkan novel inceranku itu. Sebagai gantinya saya mendapatkan parfum dari si pacar. Dia mengganti hadiahnya di last minute. Saya marah? Nggaklah. Orang parfumnya harum gitu. Lebih mahal dari novel inceranku malah. :D

    Hal yang saya pelajari dari cerita di atas, seandainya si pacar tidak menantang saya, mungkin timbunan bukuku tidak berkurang sebanyak itu dalam sebulan. Mungkin sampai hari ini timbunan buku yang belum dibaca akan terus bertambah dan tidak berkurang. Jadi mungkin sebaiknya, saya sering-sering ikut tantangan membaca biar ada motivasi memperbanyak membaca dan mengurangi timbunan buku yang belum dibaca. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. eciyeeeh, si Pacar baik bener ^_^
      itu parfum yang di Insta ya Dian? enak kah baunya, produknya siapa ntuh? #hish #malahkepo

      hebat dong kamu bisa 6 buku sebulan, semua uda direview juga? #makinsalut
      aku mah cuma baca 5 dan 1 yang berhasil di review #korekkorektanah

      eniwe, soal nabungnya gimana? nggak di ceritain, jangan-jangan kamu..
      kamu..
      nggak ada masalah antara menabung dan menimbun, OH NO! I envy youu.. #gegulingan

      Hapus
    2. Iya kak, parfum barunya yang saya upload di Insta. Norak ya kak? Ah, biarin. Baunya enak. Lembut. Manis kayak aku. Hahaha. *ditoyor lagi*

      Oh iya, dalam sebulan itu saya selesaikan 6 buku kak. Setiap Tempat Punya Cerita project dari GagasMedia itu lho kak. Tau kan? Nah, beberapa hari setelah saya (ngos-ngosan) nyelesaiin keenam novel itu, saya langsung bikin review-nya, langsung di-print juga trus setor ke pacar sebagai bukti kalo saya bisa memenuhi tantangannya.
      Abis dia baca review-nya, baru deh saya dibeliin parfum itu. :D

      Soal nabung?
      Waduh kak, jangan ditanya lagi deh.
      Dompet & isi ATM itu jebol karena beli buku yang pada akhirnya cuma jadi tumpukan di rak buku. Makin ngerasa bersalah sama diri sendiri. Mamaku sampe ngomel-ngomel tiap hari. Nah, pas si pacar nantangin itulah makanya saya semangat bener buat memenuhi tantangannya biar timbunan buku yang belum dibaca bisa berkurang kak. Makanya sekarang SAYA MEMBULATKAN TEKAD untuk mem-push diri ikut tantangan membaca. Kalo tantangan membacanya berhasil, saya baru deh menghadiahi diri dengan maks.2 buku baru. Trus kalo novelnya bukan penulis favorit atau genre-nya bukan kesukaanku, kayaknya mending nyari pinjeman ajalah kak. :)

      Hapus
  3. Wahah iya ini bener banget, win. kadang gaji cuma masuk ke rekening terus ngelayap keluar lagi lewat gesekan gesekan ATM.
    #tsurhat
    aku orangnya susah buat pegang uang, ngga cuma buat beli buku tapi buat jajan, belanja baju anak, beli sepatu anak halah kegatelan pokoknya kalo udh liat pernak pernik anak yg imut XD

    Mulai sekarang si kakak udh aku biasain nabung di celengan, baru koin koin sih, sebagai saingan, aku juga ikut nabung koin
    *dipentung

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaaa..
      hedehhh..dulu waktu si Fathir (anak) masih belum genap 2 tahun, astagah..itu rekening selalu kering tiap bulan, bahkan temen kantor sampe kepikiran klo aku ini jualan baju bayi - saking seringan dapet kiriman paket hasil belanja onlen..

      eh, lha sekarang begitu Fathir uda mulai menginjak 2 tahun..kok aku kembali ke buku #merasagagal
      klo suami ngga sabar mungkin..mungkin..

      bukuku di loakin sama dia *tidaaaakk* #mulailebay

      sekarang, celengan Fathir uda 2 nyaris penuh, baik uang kertas atau koin, aku satu aja belum sampe setengahnya #miris #niatcurcol

      Hapus
  4. Jujur... aku kalap banget sama beli buku itu sejak gabung BBI. Wahaha...
    Sebelumnya sih gak gitu-gitu amat. Paling banyak dalam sebulan itu beli 2-6 buku aja dan itu pun masih bisa ditahan. Tapi setelah gabung BBI dan sering ngintip LPM di Bajay. Oh Nooo... mata ini rasanya ijo banget liat buku diskon. Puncaknya itu di bulan Desember dan Januari. Total buku yang aku beli lebih dari seratus. Hahahaha *terus dikeplak raket*

    Mama aku yang tiap hari nerima paket dan ngeliat timbunan aku yang semakin tinggi, jadi sering nyinyir sekaligus nyindir karena banyaknya buku yang digeletakin gitu aja di atas meja. Dan rasanya sekarang jadi agak beban juga untuk ngabisin timbunan itu.

    Untung aja sih, akhir-akhir ini udah agak sadar supaya gak terlalu gampangan terpengaruh obralan. Terus mulai nyicil baca satu demi satu.

    Tapi sisi positifnya sih, aku gak perlu bingung dengan buku bacaan untuk tahun ini XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tammy oh Tammy ^_^
      beneran buku obralan itu memang menyesatkan - tapi alhamdulillah..belakangan sudah agak berkurang hasrat menimbunku *salah dua alasannya space buat nyimpen buku dirumah sudah nggak ada, kedua bingung jawabnya klo ditanya suami, itu buku-buku yang segel buat dijual lagi kan?*

      nah, coba klo aku jawab - bukan itu semua bukuku
      yang dijual lagi cuma 5
      terus dia lihat dua kontener-gede-penuh yang ada di depannya ternyata bukan buku dagangan
      pasti shock kan yah, secara dia mathematic man - pasti yg ada dipikirannya, berapa duit ini semua?

      nggak bingung sama bacaan untuk 1 tahun atau 2 tahun kedepan, tapi efek sesudahnya yang nggak-banget ^_^

      tapi-tapi Tammy rajin nabung dong yah?
      aku...enggak #menyesal

      Hapus
  5. Hai mbak Winda, salam kenal :D
    topiknya menarik, timbun menimbun buku. Biasanya saya kalo dapet uang saku disisihin buat ditabung, trus netapin budget untuk beli buku (maklum masi mahasiswa). Eh tapi beberapa bulan belakangan mulai kalap beli2 buku, jadinya malah nggak ada yg disisihin untuk ditabung, uang saku diutamain buat beli buku, sisanya baru buat makan, bensin, dll. parah >.< rasanya buku di rak kuraaang aja. Trus mulai sadar gara2 di kalangan booktuber lagi beken TBR shaming tag. Intinya mereka nunjukin buku2 yang belum dibaca sambil ngitung jumlahnya. Timbunan di rak keliatannya nggak banyak, tapi wktu saya itung TBR saya mmang jumlahnya kayaknya cukup buat jatah baca setahun :|
    Dari situ saya mulai nyoba ngerem beli buku, sama nerapin konsep TBR jar. Jadi setiap bulan wajib ambil satu judul dari situ, nah seandainya judul yg diambil nggak berpotensi untuk dibaca (alias dulunya beli gara2 diskon ato hal2 lain). buku itu bisa disumbangin ato dibuat giveaway ato dijual mungkin. Baru jalan sebulan, lumayan seru kayak nunggu undian buku mana yg bakal dibaca. Mudah2an bisa jalan terus :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah..idenya menarik - pake sistem undian ^_^
      Sayangnya aku tipe yang nggak bisa lepas dari masa lalu #tsah #ditendang
      Aku susah banget tuh melepas buku yang ada di timbunan atau di rak (meski nggak menarik) untuk di jual ke orang lain #menataphampa

      Eniwe, terima kasih ya sudah mau mampir ^_^

      Hapus
  6. Hmm... kalau dibilang bookworm sih kayaknya belum pantas ya, Mbak. Buku-bukuku masih jauh dari kisaran seorang bookworm. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini mulai keranjingan beli buku, padahal biasanya cuma ngandelin giveaway, kuis, atau buntelan dari orang-orang. Yang biasanya kebanyakkan buku didominasi buntelan, sekarang sedikit demi sedikit mulai hasil dari beli-beli-beli, kebanyakkan sih online karena ya itu, diskon 15% aja rasanya udah gede banget :O

    Ah iya, kemarin, pas aku lagi ada acara karyawisata ke kota Bandung, karena lagi waktu istirahat, aku sama temen-temen malah ke mall. Ahaha..., maklum kan ya, jarang-jarang kami kesana karena tinggal agak ke Bandung coret. Awalnya sih nggak ada niatan apapun, dan pas liat ada bazaar buku murah juga biasa aja, soalnya udah yakin duluan kalau di bazaar-bazaar gitu, buku-bukunya yang not my cup of tea banget, semacam nonfiksi gitu. Eh..., akhirnya ketipu sendiri, ada juga buku-buku fiksi, banyaknya sih dari GagasMedia sama Bukune, seketika kalap, karena harganya cuma 5-15K doang, aku berasa orang laper yang baru ketemu nasi setelah berminggu-minggu *pengandaian metafora yang hiperbola banget*. Ada banyak buku-buku yang jadi wishlist aku, tapi karena kebanyakkan itu udah langka gegara terbitnya tahun 2007-2009-an, jadi susah nemu di tobuk online. Disana aku beli 70.000, dapatnya 8 buku sih ya, kan kalau harga normal paling cuma 2 atau 1 buku mungkin.

    Terus ini, aku langgar janji aku sendiri, kan ikutan Receh Untuk Buku ya, projeknya dari Kak Maya Floria, (harusnya sih) celengannya nggak boleh dibuka apalagi sampai dihitung hingga akhir bulan di 2014 nanti, cuma ya gitu... bohongnya aku langgar aja deh #digetokKakMaya #ditendangsampaiAustralia Dihitung selama 3 bulanan ini udah ada sekitar 170.000, mikir-mikir pengen dibeliin sekarang aja apa nggak ya... nunggu akhir tahun mah bisa ketinggalan new release soalnya. Awalnya sih nggak jadi, iya awalnya.

    Eeeh... kesini-kesini nggak bisa bohong keterusan, aku buka aja celenganku, beli buku dari orang yang katanya pengelola yayasan anak gitu, mungkin semacam panti asuhan, nah uang hasil penjualan bukunya nanti disumbangin kesana. Nggak banyak mikir sih saat itu, terlebih kita boleh nentuin harganya sendiri, SESUAI HATI NURANI kita. Aku sih mampunya 20K per buku, dipikir-pikir emang rada untung sih mengingat harga aslinya bisa tiga kali lipat dari itu, tapi kalau uangnya disumbangin gitu, rasanya pengen ngasih lebih #aaahdilema. Kemudian aku pilih 5 buku, sekalian buat koleksi di taman bacaan yang aku kelola juga, ibaratnya sih beli buku yang uangnya buat disumbangin dan buku yang didapat disumbangin juga. Hmm... itu sih baru jangka seminggu ini, nggak tau deh besok-besok apa kabarnya, mengingat uang jajan ditambahin juga #senyumlebar, semoga timbunannya nggak menyiksa deh, bacaannya diwakili aja sama anak-anak yang datang ke taman bacaanku :D Anyway, kalau Mbak Winda mau nyumbang untuk kami, boleh kok #kedipmata #kodenihkode xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Syifa ^_^
      ahahaha..kamu bisa aja *garuk-garuk kepala*
      ngomong-ngomong boleh dong japri aku nama yayasannya apa, sapa tahu aku pengen ikutan nyumbang juga buat panti asuhan tadi #lemparsenyumlebar

      Ternyata emang susah ya mengendalikan hasrat untuk tidak membeli buku saat ngelihat saldo di celengan or tabungan or ATM masih banyak #heh #dijorokinkejurang

      Hapus
    2. Lebih tepatnya, bukan yayasan Mbak, semacam taman bacaan gitu sih. Wah, boleh banget tuh, dengan lapang dada kami terima, kontak aja ke asysyifaahs[at]yahoo[dot]com atau @asysyifaahs di twitter, Mbak.

      Sekarang jadi harus banyak nabung :D

      Hapus
  7. Hai kak Winda, seneng deh baca curhatannya. Bukan seneng karena lihat kak Winda kepayahan nahan selera nimbun buku loh ya. Namun, setelah baca tulisan kakak, saya jadi mikiiiiiiiiirrrr lama.

    Saya sekarang udah 20 tahun, dan mirisnya belum punya tabungan sepeser pun *meski cuma recehan* *omaigod*. Saya jadi bertanya-tanya, apa ntar pas usia saya udah 29 tahun, saya bakal curhat hal yang sama kayak kak Winda? Ngerasain kekhawatiran yang sama? Oh, tidaaaks. Saya nggak mau puyeng mikirin hal-hal ribet kayak begono *beburu beli celengan ayam*

    Permasalahan kita kayaknya 11-12, kak. Sama-sama susah nabung, bedanya uang kak Winda habis buat numpukin buku. Sedangkan uang saya nyangkut di perut, habis buat beli makanan daan cemilan bertumpuk-tumpuk *aeeeh, beginilah deritanya jadi mahasiswi+anak kost yang masih didera tumpukan tugas kuliah, jadi butuh banyak ganjalan perut biar tetep konsentrasi #alibi :p

    Dulu (sekitar setahun lalu), saya juga doyan ngabisin uang buat nimbun buku. Beratus-ratus ribu melayang tiap kali mampir ke tokbuk *mampus, nggak bisa makan* Tapi sejak kenal dunia giveaway, kuis juga blogging, saya nyaris nggak pernah beli buku lagi. Bukan karena kecintaan saya sama buku udah pudar, melainkan sekarang saya punya stok 5-10 buku gratisan setiap bulan (hasil beburu hadiah). Emang sih, nggak semua buku-buku hadiah itu sesuai sama genre bacaan kesukaan saya. Kadang, ada buku yang saya sentuh dengan terpaksaaaaaaa banget (haeh, nggak tau diri, udah gratisan, maunya pilih-pilih lagi). Tapi nggak jarang, saya dapet buku yang sesuai banget sama jiwanya saya, lebih okenya lagi dapet buku dari penulisnya langsung. Bonus tandatangan pula *cihuuuuii

    Jadi, untuk urusan timbun menimbun buku, saya udah terselamatkan. Paling-paling sekarang ini hanya beli satu dua buku yang bener-bener bikin saya selera pas main ke toko buku. Selebihnya, saya membuat perjanjian dengan diri sendiri, kalo buku-buku hadiah hasil gratisan yang tergeletak manis di rak harus dituntaskan *kalo ada waktu luang, sekalian tulisin resensinya.

    Nah, masalahnya sekarang, saya susah nahan diri untuk nggak ngabisin uang buat beli tumpukan cemilan. Apa saya harus beburu kuis yang berhadiah cemilan sekarung juga yak? :p hihiiii..

    Ummm, tapi saya mau belajar nabung deng. HARUS. Saya nggak mau semua uang saya nyangkut sebatas tenggorokan, lalu perut. Lalu habis. Solusinya gimana tapi ya? Kebiasaan nyongkel celengan masih susah dihilangkan nih u.u

    Well baiklah, mungkin ini bisa jadi solusi buat kita, kak Winda. Saya teringat ada seorang teman yang bilang “jika punya keinginan untuk diri sendiri, biasanya agak susah diwujudkan. Tapi kalo keinginan itu menyangkut orang banyak, biasanya lebih mudah tercapai.” Jadi, saya mau mencoba trik baru dalam urusan tabung menabung, melibatkan orang lain didalamnya.

    Contohnya gini, bulan September kelak, ibu dan pacar saya ulangtahun tuh. Saya mulai nabung dari awal Mei buat beli kado istimewa untuk mereka. Nah, tiap kali mau bobol celengan, pasti kebayang-bayang deh “ini duit buat beli kado untuk ibu sama pacar. Aeeeeh, mana tega diambilin.” Gituu deh kak Winda.

    Teruuus, kalo yang mau dibeli itu nominalnya gede dan butuh waktu lama buat nabung (missal, saya punya niat beliin kebun atau tanah buat orangtua saya beberapa tahun lagi), nah biar uang tabungannya awet, dibeliin tumpukan emas dulu, ntar pas mau beli tanah, baru deh emas-emasnya dijual.

    Semoga dengan cara itu bisa nabung dengan baik & benar deh, dan nggak kebiasaan motong leher si celengan ayam ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini link sharenya kak ->> https://twitter.com/Inokari_/status/461734738701455360 ^^

      Hapus
    2. Plus di sini ->> http://goresanpemenang.blogspot.com/2014/05/tips-sukses-menabung.html :))

      Hapus
    3. uwaahhhh..Intan, aku terharu banget - lihat nih mejaku sampe banjir air mata #nggakokinibohong

      etapi beneran lho, aku terharu - terima kasih ya sudah mau share pengalaman pribadinya daaaan tips nabung, itu beneran 'sesuatu' banget - aku terharu pas kamu mau beliin tanah buat orang tua kamu - hish, coba lihat saya, sudah setua ini niat begitu aja nggak punya #dasarmiskin #lompatkerelkereta

      sekali lagi, thanks a LOT Intan ^_^

      Hapus
  8. Mba,toko buku onlinenya namanya apa?kali aja bisa mampir..
    Pusing jg c kalo hobi baca,ga nahan liat buku nganggur,kalo bisa,pengen tu buku di kasih pengawet biar ga selese2 bacanya,ga beli trus2an,ga d marahin mamake gegara ngabisin uang buat beli buku :D apalagi kalo ada diskon,huaaaaa ni mata uda merem jg ttep melek lg buat liat apa yg d diskon,dan ujung2nya pasti beli jg deh #angkattangannyerah

    BalasHapus
  9. Rasanya baca curhatan empunya post di atas serasa juga baca curhatan pacar, secara khusus sih aku bukan penimbun buku, beli bukunya aja jarang, kalau lagi ada lebih uang malah milih buat wisata kuliner hahaha but, seseorang yang aku cintai memiliki kasus yang sama, dia itu kadang suka kalap kalau beli buku, apalagi itu, kalau ada promos diskon, ataupun bazar buku murah, beuh pasti beli. bahkan di bandingin beli aksesoris dia lebih milih beli buku. padahal kalau ke kamarnya, meja belajar, dan lemari 4 raknya sudah penuh... antrian bacaannya juga numpuk terkhiar sih dia bilang menyiasatinya, mengapa kemudian masih suka kalap, dia akan pinjamkan buku-bukunya itu ke sahabatnya, kadang yang ia pinjamkan buku yang benar-benar belum dibacanya, dan saat pengembalian dia akan tanya ke sahabatnya itu tentang kesan dan isi yang dibaca oleh sahabatnya itu dari itu dia memang nggak baca secara keseluruhan tapi jadi bisa berdiskusi juga akhirnya... ttapi bagaimana pun aku selalu bilang, jangan kalap bener, meski dia suka bilang buku itu investasi... well, nabung itu bagaimana pun emang penting sih... nggak hanya nabung duniawi, tetapi juga buat akhirat, sedekah misalnya... :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Holla Masbro, terima kasih udah mampir ^_^
      Jadi di kamar cewek-nya udah penuh buku?

      Klo gitu jangan bosen diingetin buat nabung ^_^
      Setuju, klo buku itu memang investasi - tapi investasi yang bagaimana, untuk di jual lagi (kaya saya begini) atau untuk nanti calon anak-cucu-nya? klo untuk calon anak-cucu, lihat-lihat jenis bukunya ^_^

      Buku non-fiksi, biografi tokoh-tokoh, ensiklopedi, novel klasik, mungkin okelah klo dibikin investasi - tapi itu semua tergantung masing-masing individu juga sih, hehe ^_^

      Oh, untuk sedekah - bisa aja uang kembalian (atau recehan) hasil beli buku dijadiin sedekah ^_^

      Sekali lagi terima kasih sudah mampir di sini ^_^

      Hapus
  10. Enak tuh Kak yang udah kerja, nah yang masih sekolah gini. uang tabungan langsung ludes kalau ada bazar buku, diskon akhir pekan. kadang kalau ada petugas JNE datang ke rumah nganterin paketan sampe bingung 'Itu pesenan buku yang mana ya?'
    Susah emang kalau belum punya penghasilan sendiri tapi 'selalu' ngiler kalau ada buku baru. Kalau ditanya 'kenapa nggak pinjam buku di perpus?' jangan heran kalau alasanku panjang lebar. 'karena buku di perpus nggak up to date' itu2 aja sampe bosen ngeliat sampul bukunnya yang lecek. buku pelajaran? No, I'm novel mania' hahah
    Yang bikin sebel lagi kalau pas uang tabungan habis buat beli buku 'selalu' banyak yang nawarin buat pergi jalan2. terpaksa cuman jawab 'nggak deh! lagi nggak ada uang.'
    Hahah sekian curcolnya. dan terimakasih:D *akhirnya*

    BalasHapus
  11. WOW Keren nie artikelnya
    Sambil baca artikel ini, Aku numpang promosi deh !
    Agen Bola, Bandar Bola Online, Situs Taruhan Bola, 7meter

    BalasHapus

Designed by FlexyCreatives