Review: The Chocolate Thief (Amour et Chocolat #1)

Judul: The Chocolate Thief
Penulis: Laura Florand
Penerbit: Bentang Pustaka
Penerjemah: Veronica Sri Utami
Tebal: 414 hlm.

Sinopsis:




umm...
#longpause #jedapanjang #tariknafas

Ini adalah seri pertama dari serial Amour et Chocolat or Chocolate Series karangan Laura Florand. Menurut Goodreads, dan situs resminya di sini sudah ada 6 seri yang release, tapi di Indonesia baru ada 3 judul yang di terjemahkan oleh Bentang Pustaka; The Chocolate Thief, The Chocolate Kiss dan yang baru-baru ini The Chocolate Touch. Saya sendiri baca buku ini dari seri yang keduanya dulu (The Chocolate Kiss) baru lanjut ke The Chocolate Thief.

Okay, enough for the intro. Langsung aja kita nyemplung ke dunia coklat milik Cade and Sylvain.

photo taken from here and here. Edited by me.
Cade Corey, salah satu pewaris perusahaan coklat terbesar di Amerika, produknya yang terkenal adalah Corey Bars (saya belum pernah nyicipin Corey Bars - karena hasil googling saya, tidak menunjukkan hasil, jadi saya yakini ini cuma ada di imajinasi Laura - so, anggap saja Corey Bars itu seperti milk chocolate versi Cadburry. Don't tell me you haven't taste it? Kalo belum, saya sarankan kalian segera nyobain deh. Enak. (Cadburry, this is my fave one, nomor dua setelah Ritter Sport) #infopenting #kode ^__^

Ceritanya Cade sedang berencana mengeluarkan lini produk baru - yaitu coklat Premium, yang namanya Premium pasti harus WAH, iya kan? Baik dari rasa, packaging, bahan-bahan dan yang nggak kalah penting - pembuatnya. Jadi, karena alasan itulah, Cade terbang dari Amerika ke Paris - dimana pembuat coklat terkenal di dunia berkumpul. Cade sudah melakukan riset dan memiliki daftar panjang nama para chocolate artisan yang akan diajaknya bekerjasama. Dan target utama Cade jatuh pada Sylvain Marquis. Selain tampan, coklat buatan tangan Sylvain sangat lezat (iya, buatan tangan - bukan pake mesin semacam Corey Bars ya girls)

So, datanglah Cade ke atelier Sylvain, dengan harapan besar bahwa Sylvain akan menerima tawaran kerjasama-nya, sayang sekali Cade mendapatkan penolakan. Bisa dipahami kenapa Sylvain menolak tawaran Cade, kalo saya jadi Sylvain pasti juga melakukan hal yang sama. At first. ^__^

Cade geram, marah dan kecewa - dia sama sekali tidak menyangka bahwa seorang Sylvain bisa menolak tawaran yang luar biasa darinya, pewaris perusahaan coklat terbesar di Amerika. Cade mencoba melupakan sejenak kejadian dengan Sylvain dan kembali pada rencana awalnya. Segera dia menghubungi kandidat berikutnya, Dominique Richard, tapi sekali lagi Cade harus mendapat penolakan.

Makin sedih dan kecewa - Cade, berusaha menghibur dirinya dengan membuat rencana baru dan mencoba menikmati keindahan kota Paris. Unfortunately, beberapa kebetulan terjadi. Takdir seolah dengan sengaja mempertemukan Cade dan Sylvain berkali-kali. Hal itu semakin membuat keduanya saling tertarik satu sama lain, tapi saat ini yang ada pikiran Cade adalah bagaimana mendapatkan rahasia kelezatan coklat buatan Sylvain.

Dengan semangat '45 yang dimiliki Cade, dia memutuskan untuk menyelinap ke dalam atelier milik Sylvain - awalnya dia tidak yakin apa tujuannya memasuki atelier Sylvain - jadi dia memutuskan untuk melihat-lihat deretan botol warna-warni yang berisi bahan campuran untuk membuat coklat, mencicipi jenis coklat apa yang dipakai Sylvain, juga memeriksa karton untuk mengetahui darimanakah susu dan mentega itu didatangkan, dan setelah selesai dengan penyelidikan kecilnya, Cade akan membawa pulang beberapa bungkus coklat untuk dirinya sendiri - nah ini baru yang mencuri beneran (sesuai dengan judul bukunya) ^__^

Penyelinapan Cade berlangsung hingga beberapa kali, dan hanya orang bodoh kalau sampai membiarkan seorang pencuri bisa masuk ke ruang pribadinya more than twice. Seperti peribahasa sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga, it happens to Cade. Suatu malam, ketika Cade sedang beraksi, seseorang menangkap basah dirinya sedang berada di dalam atelier Sylvain.

Kalian tahu siapa yang memergoki Cade? I don't think so.
Jadi, baca bukunya yah.. ^__^

Personal thought:
Saya suka buku ini.
Kenapa? No particular reason, I love chocolate. Seperti yang sudah-sudah, saya selalu suka tema kuliner, apapun itu.

Ceritanya sendiri cukup menarik - tapi juga bikin bosan dan sebel sesekali.
Sebel kenapa? Pemakaian bahasa Perancis-nya, masih banyak - dan saat otak saya betul-betul butuh bantuan menerjemahkan - tidak ada catatan kaki dibawahnya. Ugh!

Bosennya? Well, gimana bilangnya ya..dari awal sudah bisa ketebak gimana cerita ini akan berakhir. Cade and Sylvain, you-know. Tapi, rupanya penulis lebih memilih jalan agak panjang sebelum menyatukan kedua karakternya.

Diluar kisah percintaan Cade dan Sylvain, saya suka buku ini. Laura, dia jago banget mengambarkan suasana Paris, I can feel the atmosphere and its romanticism, trus apalagi kalo bukan, coklat, coklat, coklat. Chocolate is everywhere girls, yumm ^_^ Buat yang suka coklat, go grab one!

Designed by FlexyCreatives