Review: People Like Us

Judul: People Like Us
Penulis: Yosephine Monica
Editor: Tia Widiana
Proofreader: Dini Novita Sari
Penerbit: Haru
Tebal: 330 hlm; 19 cm

"Hanya karena kau punya banyak sekali kekurangan, bukan berarti kau tak layak dicintai" (hal. 251)
Amy—Amelia Collins, bukanlah gadis yang populer dia hanyalah gadis biasa saja, yang cenderung pendiam dan menutup diri. Kesukaannya hanya ada dua, menulis dan Ben. Cowok yang menjadi cinta pertamanya di kelas musik, saat itu Amy berusia 12 tahun. Ha! Tidak ada alasan khusus kenapa Amy menyukai Ben, menurut Amy—Ben berbeda, seolah Ben punya dunianya sendiri.

"Aku bahkan belum tahu jelas kenapa aku bisa menyukaimu. Mungkin karena sejak dulu, kau bertingkah seperti kau bukanlah bagian dari dunia..." (hal. 315)
Amy—yang tipe tertutup tidak sanggup jika harus menyatakan perasaannya pada Ben, jadi dia memilih memendamnya, hingga akhirnya ada kabar bahwa Ben telah berhenti dan pindah sekolah. Amy kehilangan jejak Ben, tidak seorangpun yang tahu kemana Ben dan keluarganya pindah.

3 tahun kemudian, Amy yang saat itu sudah duduk di bangku high school, dipertemukan lagi dengan Ben. Cintanya pada Ben yang tidak pernah padam barang sedetikpun kembali menyala terang. Sayang sekali, Ben tidak mengingat Amy, dia bahkan membenci gadis itu karena selalu menguntitnya. Ben yang tipe penyendiri sangat terusik dan tidak suka jika ada yang mendekati wilayah pribadinya, yang jelas-jelas Amy lakukan. Ditambah lagi seluruh angkatan di sekolah akhirnya tahu bahwa Amelia Collins menyukai Benjamin Miller. Makin panjang alasan Ben untuk tidak menyukai Amy, si gadis penguntit.

Tapi ada suatu kejadian yang merubah seluruh keadaan itu.

"Apa yang lebih mematikan, pistol atau pikiran?"
"Senapan memberimu kesempatan, tapi pikiranlah yang mempengaruhimu untuk menarik pelatuk" (hal. 242)

Saat Amy dinyatakan terkena Kanker Limpa—Ben atas paksaan Lana dan teman-temannya, akhirnya bersedia datang untuk menjenguk Amy di rumah sakit. Sejak itu kedekatan mereka berdua perlahan mulai terjalin, Amy yang tahu bahwa Ben masih menyukai Irina mantan pacarnya membuatnya tidak terlalu banyak berharap. Dia sudah cukup senang hanya dengan menjadi teman Ben.

"Kenapa kau mau duduk dan ngobrol denganku malam ini?"
"Karena kita teman" (hal. 222)

Ben yang tertutup tiba-tiba saja menceritakan impian.nya pada Amy. Bukan seperti kebanyakan orang yang dikenalnya, Amy tidak mentertawakan impian Ben, dia malah sangat mendukungnya. Merasa memiliki kesamaan, Ben meminta Amy untuk mengajarinya membuat cerita atau tulisan yang menarik, yang tentu saja dengan senang hati Amy akan membantu Ben, meski Amy juga tahu kalau Ben mendekatinya bukan karena cowok itu menyukainya.

Sikap tulus dan selalu melihat sesuatu dari sisi positif yang dilihat Ben dari Amy membuatnya mendapat banyak pelajaran. Dari sinilah, kehidupan Ben yang kacau dan pribadinya yang tertutup, mulai berubah. Dia bahkan sudah bisa mengobrol dengan adik bungsunya, Margareth, yang selama ini selalu dihindarinya, karena Ben anggap dia adalah jelmaan Granny (neneknya). Ben juga mulai bisa menerima orang-orang yang ada disekitarnya, termasuk Dexter, ayah tirinya.

"Dia melakukan banyak hal yang tak pernah orang lain lakukan dalam hidupku" (hal. 245)
"Dan kau—apakah kau sudah melakukan hal seperti itu dalam hidupnya?" (hal. 246)

Well, kita mungkin bisa menebak bagaimana cerita ini akan berakhir, iya kan?
Pertanyaan Irina pada Ben diatas, jelas hanya Amy yang bisa menjawabnya, lalu apakah Ben mendapatkan jawaban atas pertanyaan Irina itu? Bagaimanakah kisah cinta Amy pada Ben akhirnya?


Saya menyesal sekaligus berterima kasih sekali kepada Penerbit Haru yang sudah memilihkan buku ini untuk saya baca. Saya menyesal karena sudah terlebih dulu berpikiran yang tidak-tidak, bahwa buku ini akan membuat saya patah hati karena genrenya yang sad-romance (fyi, saya nggak suka sad ending). Tapi lihat sekarang, saya malah berterima kasih dan bersyukur karena Haru mengirimkan buku ini dan bukan buku yang saya minta. Meski, berderai air mata—tapi saya SUKA BANGET buku ini. I'm speechless. Bukan kesalahan kala Haru memilih People Like Us sebagai juara 100 Days of Romance. Siapa sangka kalo penulis ini (red: Yosephine Monica) luar biasa keren badai meramu kata dan meracik kalimat, she's like a pro.

Ide cerita tentang kanker yang kemudian berujung kematian memang bukan hal yang baru. Tapi sekali lagi saya bilang penulis sangat ahli meracik kalimat sehingga pembaca nggak bosen meski cerita hanya seputar kehidupan Amy dan Ben. Penulis membagi peran tiap tokohnya dengan porsi yang sesuai, meski saya akui porsi untuk Ben agak kelebihan.

Banyak sekali pesan moral yang saya dapat lewat novel ini, penulis berusaha menyampaikan lewat tokoh Ben bahwa "segala sesuatu yang buruk, itu hanya ada dipikiran kita, karena belum tentu yang terjadi nanti akan benar seperti itu" sedangkan lewat tokoh Amy kita diminta untuk "lebih menerima keadaan dan berdamai dengannya, baik atau buruk"

Adegan yang paling jadi favorit saya adalah ketika Ben (akhirnya) berhasil meneriakkan menyampaikan perasaan negatif yang selama ini dipendam terhadap keluarganya, kepada Granny, Ibunya, dan juga saudara-saudaranya. Di bagian ini air mata saya keluar dengan tidak sopannya. ^_^

Ada beberapa kalimat yang juga jadi favorit saya:

"Hanya karena kau mencintai seseorang, bukan berarti kau tidak bisa melukai hatinya" (hal. 306)
"Jika aku bisa memaafkan, kenapa aku harus membencinya?" (hal. 281)
"Kadang kau harus bisa memaafkan seseorang, meskipun orang itu tak tahu bahwa dia bersalah padamu" (hal. 281)
"Mudah dan sulit itu relatif. Hidup takkan sesulit itu jika kau melakukannya dengan sepenuh hati. Dan mati itu tidak akan gampang jika kau tahu kau punya sesuatu yang layak untuk dipertahankan dalam hidup" (hal. 164)
"Itulah problem orang tua dan orang muda. Kita, orang muda, selalu berjalan kedepan karena yang kita lihat adalah masa depan. Sementara mereka, orang tua, selalu berputar kebelakang karena yang ada di depan mereka hanyalah batu nisan. Kejam, tapi begitulah faktanya" (hal. 142)
This book is so heartwarming ^_^
Kalau kalian ingin sependapat dengan saya, bacalah buku ini.
  1. baru tahu kalau Penerbit Haru nerbitin novel lokal juga.

    BalasHapus
  2. Endingnya meninggal, ya novel ini? :(
    Oh iya! Selamat ya, kamu mendapatkan kado dari aku. Diterima, ya. Terima kasih

    The Liebster Award
    http://dianputu26.blogspot.com/2014/07/the-liebster-award-1.html

    BalasHapus
  3. WOW Keren nie artikelnya
    Sambil baca artikel ini, Aku numpang promosi deh !
    Agen Bola, Bandar Bola Online, Situs Taruhan Bola, 7meter

    BalasHapus

Designed by FlexyCreatives