[Giveaway Winner] Now, Book Hoarder - Tomorrow?

Holla..maaf yah klo SUPER DUPER LAMA, saya baru umumin pemenang untuk event ini 

Now, Book Hoarder - Tomorrow?

Maklum, ada beberapa kendala, tapi saya gak lupa kok (nyaris memang, tapi gak kok)
Oke capcus, langsung aja yah untuk pemenangnya, hasil dari undian di random.org

Congrats yah, ditunggu inbox data diri kalian dan no member BBI (jika ada) ke:
merahbatako@gmail.com
batas konfirmasi 2 x 24 jam sejak postingan ini di publish yah..so, nama pemenang akan expired on 26 Nov 2014 (sore)

Review: Diary Princesa

Judul : Diary Princesa
Penulis : Swistien Kustantyana
Penerbit : Ice Cube (KPG)
Tahun terbit : Februari 2014
Cetakan : Pertama
Tebal : 260 hlm
ISBN : 978-979-91-0679-7


Sebelumnya saya mau minta maaf ke Sang Penulis (Swistien Kustantyana) karena buku pemberiannya ini baru saya review sekarang, deep apology..maaf ya sistah..

Tadi sempat browsing juga, rupanya sudah banyak banget temen-temen blogger yang nulis review buku ini, makin merasa bersalah deh saya.. #sembunyidikolong
Oke, tanpa berlama-lama ~ langsung ke review aja yah, SKIP bagian Sinopsis ^_^

Review:

Novel ini sebenernya masuk genre teenlit - dan to be honest, teenlit is not my cup of tea..taaaaapiiii, novel satu ini rupanya beda, BA-NGET. Karena pertama, tema yang diangkat termasuk berat (sejenis sama novel People Like Us) cuma agak lebih berat PLU sih #nyengir, Swistien mengusung tema Bipolar Disorder, klo gak paham apa itu Bipolar Disorder, baca novel ini.

Well, sesuai dengan judulnya "Diary Princesa" ini memang bisa dibilang menceritakan kejadian sehari-harinya Cesa ~ tapi yang membuat "diary" ini menarik adalah cara penulis menceritakan kejadian yang dialami setiap tokoh, yang menurut saya amazing. Baik Cesa maupun Jinan, keduanya bisa menjadi favorit saya. Oh, iya maaf, mungkin kalian belum paham siapa Cesa dan Jinan. Mereka berdua adalah kakak beradik, Jinan adalah sang kakak yang menderita Bipolar Disorder, dan Cesa adalah sang adik yang digambarkan di buku ini serba berkebalikan dengan Jinan (selain kondisi mental.nya tentu saja) baik secara fisik maupun dari kesukaan masing-masing.

Awalnya saya kurang bisa menyukai novel ini, karena jujur saja alurnya lumayan lambat didepan, rasanya hanya monoton menceritakan tentang keseharian Cesa dan hal-hal kecil yang berhubungan dengan kakaknya, Jinan, nyaris tidak ada konflik yang cukup berarti, tapi sekali lagi, cara penulis menceritakan dan karakter yang dimiliki masing-masing tokoh membuat saya terus membaca buku ini sampai habis. KEREN banget cara penulis membangun karakternya.

Saya baru menikmati buku ini ketika menjelang pertengahan, karena disinilah mulai bermunculan berbagai konflik meski gak begitu menguras emosi tapi cukup bikin sedih saya sebagai pembaca. Tapi yah itu, hanya bisa membuat saya sedih tapi gak sampe berlinangan air mata, mungkin karena ini diceritakan dari POV 1 atau mungkin saja emosi yang diberikan penulis di tiap konflik yang terjadi porsinya kurang, semisal saja ketika kedua orang tua Cesa dan Jinan sedang terlibat masalah, dan mereka yang terkena dampak paling besar. Cesa hanya menanggapi "begitu saja" seperti bukan sesuatu yang berarti, cukup kecewa disini dengan sikap Cesa (atau bagaimana penulis menceritakan Cesa). Meski hubungan anak dan orang tua tidak harmonis sekalipun paling tidak perlulah sedikit empati diantaranya, apalagi klo dihadapkan dengan masalah seberat itu.



Mungkin seperti para remaja pada umumnya yang suka menulis diary ~ mereka punya kecenderungan untuk produktif menulis jika sedang ada masalah atau sedang jatuh cinta, iya, saya anggap begitu yang dialami Cesa. Dibuku ini pun Cesa justru lebih banyak memusatkan perhatian pada kakaknya Jinan dan Nathan, laki-laki sahabat kakaknya yang sangat dia sukai, sayanganya Nathan malah menyukai Jinan dan bukan Cesa.

Kehadiran Nathan dan Aksel di buku ini membuat kisah Cesa dan Jinan lebih penuh warna, I love both of this guy, mereka lovable. Tidak berlebihan seperti teenlit umumnya, mereka sangat well, yah..you-know loveable (diulang) sayang porsi keduanya di cerita ini kurang banyak, buat saya kehadiran mereka dicerita masih kurang, I want more! #protes #ngadaindemo

Endingnya, jangan tanya saya soal endingnya..
Karena yah itu, sudah saya bilang barusan, I want more Nathan and Aksel ~ gak terima banget tiba-tiba sudah sampai ending dan bahkan saya belum puas tentang bagaimana kelanjutan kisah Jinan-Nathan-Cesa-Aksel (perhatikan urutannya).

Semoga, Swistien berkenan membuat sekuelnya ~ tapi klo bisa kali ini dari POV-nya Jinan ^_^
Karena pasti lebih berasa lagi Bipolar Disordernya. Ditunggu yah Kakaaaak..! #teriakpakeTOA

Review: Love Bites

Judul: Love Bites 
Genre: MetroPop
Penulis: Edith PS | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Beli di: Gramediana | E-book



Sinopsis:
Vania:
“Percayalah, kalau diizinkan memilih, aku ingin menghabiskan sepanjang hariku di sofa, menonton dvd komedi keluarga Modern Family sambil menikmati sundae dan bercengkerama dengan Cherish. Sayangnya...”

Ivan:
“Ini bukan tentang gue mengerti atau tidak soal pekerjaannya, tapi tentang bagaimana seorang suami menjadi sandaran bagi istrinya yang butuh pendengar. Gue ingin bisa diandalkan olehnya.”

Apa yang terbayang saat mendengar fenomena Alpha Wife dan Beta Husband? Tentang bagaimana pernikahan diusahakan ketika terjadi pertukaran peran antara suami dan istri. Tentang dominasi istri—dari segi finansial dan pengambilan keputusan—dan peran baru laki-laki sebagai stay-at-home husband.

Selamat datang di kehidupan Ivan dan Vania. Pasangan muda dengan satu anak perempuan berusia lima tahun, yang dipenuhi beragam dinamika pernikahan kaum urban di era modern: gaya hidup, stigma sosial, kodrat, idealisme, skala prioritas, inferioritas, pelarian... Sampai akhirnya keduanya yang semula mempermasalahkan perbedaan, yang awalnya diyakini menyatukan mereka, mulai saling menyalahkan.

In fact, love is not that blind. It even bites!

Review:
Novel ini mengisahkan tentang sepasang suami istri, Ivan dan Ivana ~ beserta buah hati mereka Cherish, yang berusia 5 tahun. Ivana, sang istri alpha, yang artinya memberi kontribusi paling besar pada perekonomian keluarga menjadi tema yang diusung penulis kali ini, fenomena seperti ini memang sudah banyak terjadi di kota metropolitan macam Jakarta, dimana sang istri lebih berhasil secara finansial (pekerjaan) dibandingkan suami mereka.

Seperti itu jugalah yang dialami Ivana, seorang manajer di perusahaan besar dengan karir yang sedang naik daun dan Ivan, seorang penulis yang sedang mandek (almost jobless) atau kehilangan motifasi menulis semenjak anak mereka, Cherish, lahir. Cerita berjalan tenang di bagian awal, begitu juga kehidupan rumah tangga Ivana dan Ivan, hingga segala sesuatunya mulai berubah ketika Ivana mendapatkan promosi jabatan yang membuat dia harus berpisah dari suami dan anaknya. Ivana memilih untuk tidak tinggal serumah dengan dua orang yang paling dicintainya. Itu hanya permulaan. Permulaan atas perbedaan-perbedaan yang indah menjadi tidak lagi indah, tapi malah menyakitkan, keduanya.

My thought:
Saya memutuskan membeli novel ini setelah membaca sinopsisnya, iya memang covernya sangat menarik, tapi saya nggak mungkin membeli buku hanya dari cover kan? (meski harganya murah)
tema cerita yang selalu berhasil menarik perhatianku adalah tentang alpha wife, dan ini adalah novel kedua yang saya baca tentang alpha wife (sebelumnya novel alpha wife karangan ollie).

Menurut saya, menjadi alpha wife sebenarnya karena dua hal, pertama, keadaan, kedua pilihan individu tersebut. Meski beberapa orang "kuno" menganggap hal tersebut kurang pantas karena kodrat wanita adalah melayani bukan sebaliknya, but hey, our world changing, dulu tak ada internet sekarang ada, bahkan uang 1 rupiah jaman kakek saya dulu sudah tidak bisa digunakan di jaman sekarang, artinya dunia berubah, lingkungan berubah, begitu juga peran istri.

Tapi berubah itukan tidak bisa semena-mena juga, ada aturan yang tetap harus dianut. Karena klo kita keluar dari aturan sama saja kita siap untuk kena penalti. Novel ini memberi contoh yang bagus sekali dan juga membuka pandangan kita tentang menjadi alpha wife, tentang makna pernikahan, juga bagaimana seharusnya menjaga buah hati (anak) agar tidak terluka oleh sikap kedua orang tuanya.

Ada bagian dimana saya berurai air mata (iya saya memang cengeng) adalah ketika Ivana dan Ivan saling mempertanyakan hubungan mereka, saling mempertanyakan tujuan pernikahan mereka, this is so sad, though they have been married for six years, man!

Ini bukan novel favorit saya, tapi saya suka karena membaca Love Bites, banyak mengingatkan saya tentang betapa bahagianya memiliki pasangan, suami yang selalu ada ketika kita pulang kerumah setelah lelah seharian kerja, ada anak yang selalu menanti kita dengan senyum manis bak malaikat (padahal belum pernah juga saya ketemu malaikat, apalagi di senyumin #plak) - yah, intinya saya jadi banyak mikir setelah membaca novel ini. Bahwa, keluarga adalah harta yang sangat berharga.

That's why, saya kesel banget sama endingnya dan beberapa tokoh yang menurut saya gak perlu muncul karena peran mereka yang nggak penting banget, sampai sekarang saya heran kenapa Hara itu harus muncul lagi di epilog, dan Cita, oh my god ~ bahkan saya dipusingkan dengan peran-peran dia di sepanjang cerita ini. Mungkin penulis perlu memperdalam lagi untuk peran masing-masing karakter terutama Cita dan Hara, klo tidak ada dua tokoh tersebut saya mungkin suka novel ini, tapi karena kedua tokoh ini ada, saya jadi berpikir bahwa novel ini diselesaikan agak tergesa-gesa ~ anyway, tokoh idola saya tetap Ivan, Ivana dan Cherish, selain dari mereka bertiga, no comment.

Lepas dari itu semua, saya rekomendasikan novel ini untuk yang merasa perlu tendangan halus karena masih meragukan kelebihan dan kekurangan pasangannya, juga makna pernikahan..

Rating: 3/5

Review: Fangirl

Judul: Fangirl 
Pengarang : Rainbow Rowell
Penerjemah : Wisnu Wardhana
Penerbit : Spring
Tebal: 455 halaman



Sinopsis : 

Cath dan Wren—saudari kembarnya—adalah penggemar Simon Snow. Oke, seluruh dunia adalah penggemar Simon Snow, novel berseri tentang dunia penyihir itu. Namun, Cath bukan sekadar fan. Simon Snow adalah hidupnya!

Cath bahkan menulis fanfiksi tentang Simon Snow menggunakan nama pena Magicath di Internet, dan ia terkenal! Semua orang menanti-nantikan fanfiksi Cath.

Semuanya terasa indah bagi Cath, sampai ia menginjakkan kaki ke universitas. Tiba-tiba saja, Wren tidak mau tahu lagi tentang Simon Snow, bahkan tak ingin menjadi teman sekamarnya! Dicampakkan Wren, dunia Cath jadi jungkir balik. Sendirian, ia harus menghadapi teman sekamar eksentrik yang selalu membawa pacarnya ke kamar, teman sekelas yang mengusik hatinya, juga profesor Penulisan Fiksi yang menganggap fanfiksi adalah tanda akhir zaman.

Seolah dunianya belum cukup terguncang, Cath juga masih harus mengkhawatirkan kondisi psikis ayahnya yang labil. Sekarang, pertanyaan buat Cath adalah: mampukah ia menghadapi semua ini?

My thought :
"Dia sudah menyukaimu. Kurasa dia tertarik pada hal-hal yang berbau siswi kutu buku ini. Dia membicarakanmu seolah kau sesuatu yang dia temukan di museum sejarah alam"
Hastagahnaga, lama sekali rasanya saya gak posting apapun di blog ini sejak *cek kalender* 2 bulan yang lalu, muahaha #malahngakak #gaktahudiri. Yah, harap maklum, akhir-akhir ini saya disibukkan sama hal baru, menjadi mahasiswa (lagi) dengan seabrek tugas yang bikin pening dan kebagian kerjaan sampingan jadi salah satu redaksi Majalah di kantor, keduanya sangat menyita waktu (apalagi waktyu baca) *maaf, malah curcol*

Sebelumnya terima kasih banyak untuk Penerbit Spring, yang sudah dengan baik hati memilih saya menjadi salah satu reviewer untuk novel terbitan perdananya *prok.prok.prok* #applause
saya senengnya bukan main waktu nerima email dari Penerbit Spring, karena berkesempatanan jadi duta yang mengenalkan Penerbit Spring (ini aseli akunya yang melebih-lebihkan) ~ Oke.oke, jadi Penerbit Spring ini ~ saudaranya Penerbit Haru (itu loh penerbit yang kondang dengan novel-novel terjemahan Korea.nya, dan salah satu penerbit favorit saya #infopenting) cuma, kali ini Penerbit Spring lebih fokus ke terjemahan novel berbahasa Inggris, dan yak! FANGIRL adalah hasil karya perdananya, oke cuss langsung aja yah..

Review :
Apa gunanya memiliki saudara kembar kalau kau tidak memperbolehkannya menjaga dirimu? Kalau kau tidak memperbolehkannya berjuang di belakangmu? (hal. 121)
Cath the Heroine

Tokoh utama novel ini adalah Cath, Dia bukan tokoh yang akan bikin kita suka pada bacaan pertama, karena karakternya yang tertutup dia jadi terlihat sesekali menyebalkan saking introvertnya, tapi lalu semakin kebelakang ada beberapa kemiripan antara sifat Cath dengan saya misalnya. Bahwa menjadi introvert itu bisa menyebalkan juga (paling tidak pesan itu yang saya dapat dari novel ini) dan dibutuhkan orang yang khusus juga agar kita bisa dikatakan punya teman. Seperti Cath dengan Reagan (teman sekamarnya). Sampai disini saya setuju dengan Rowell.

Saya suka jalinan pertemanan yang terjalin antara Cath dan Reagan, Obrolan mereka berdua bener-bener bikin saya ngakak juga mikir, dalam hati saya sungguh pengen punya Reagan saya sendiri. Kehadiran Levi, juga membuat novel ini menjadi lebih manis ~ membuat saya diseret kembali ke memori ketika masih belum setua seumur ini. #uhuk

Saya gak bermaksud spoiler, tapi kisah cinta yang disuguhkan Fangirl memang manis bingits ~ pengakuan cinta "Mr.X" bikin saya sempat nahan nafas, meski cuma sesaat, so cute. Khas anak muda #heh.

Main Story

Cerita utama novel ini adalah mengenai kecintaan Cath pada Simon Snow dan juga Fanfiksi, sesuai dengan judulnya. Fanfiksi, klo diartikan secara bebas oleh saya adalah karya fiksi yang ditulis ulang oleh penulis lain (bisa juga penulis yang sama) dengan perluasan ide dari cerita aslinya, ini aseli hasil pemikiran saya yah, bukan dari referensi manapun, jadi silahkan untuk keakuratan informasi tanya pada pihak yang berwenang atau ke Mbah Gugel #dikeplak

Tapi ceritanya tidak melulu soal Fanfiksi, justru Fangirl lebih banyak ke kisah sehari-hari selama Cath menjadi mahasiswa, kehidupan barunya di asrama, juga mengenai persoalan keluarganya, terutama hubungannya dengan Wren—saudari kembarnya, tentu saja tidak ketinggalan kisah cintanya yang super manis, duh! saya jadi pengen balik ke masa muda nih #benerinmakeup #retouch

Buku yang pas banget untuk para remaja muda terutama yang baru masuk kuliah (seperti saya, coret di bagian remaja mudanya, itulah kenapa saya girang banget dapet buku ini, hohoho) karena pesan moral yang bisa diambil dari novel ini juga banyak ~ worth to read ^_^

Kalau kalian suka menulis cerita terutama fanfic dan juga suka yang manis-manis (kisah cinta.nya maksud saya) I recommend you this Fangirl.

Waktunya komentar..


cover asli
Covernya, saya sih lebih suka cover aslinya #dikeplak, kurang sreg sama pemilihan warna di novel terjemahan ini, dan lumayan suka sama ilutrasinya, oia klo di cover aslinya "si cowok" kan rambutnya agak panjang (sesuai sama tokoh di cerita) klo yang terjemahan rambutnya agak pendek, apa mungkin karena dia ngadep kedepan yah? Cath sendiri di cover digambarkan "tua sekali" #dibahas.

Untuk cover belakang, saya gak suka perpaduan antara warna coklat terang dan putih untuk bagian sinopsis, tulisannya jadi kurang jelas dan orang cenderung malas untuk membacanya.

Saya paling suka sama cutting pembatas bukunya dong, beda daripada yang lain pokoknya, yay!

Font-nya agak rapat sih, jadi butuh usaha ekstra supaya gak ketinggalan satu baris kalimat (spasi antar paragraf-nya kurang lebar #usul) dan jenis font yang dipakai untuk menceritakan Simon Snow (fanfic) dan Cath, kurang signifikan bedanya ~ karena sekilas nggak terlihat bedanya, mungkin bisa dipilihkan font yang lebih menonjol untuk menceritakan Simon Snow.

So far, suka dengan hasil terjemahannya, tapi ~ ada beberapa kata yang justru saya malah asing ketika diterjemahkan, misal piza (pizza) dan barbeku (barbeque), mungkin bisa dipertahankan memakai kata aslinya tapi dengan font italic yang menandakan itu bukan hasil terjemahan.

Overall: 3 bintang untuk Fangirl tambahan 1 bintang untuk Levi (jadi total 4 bintang) #sokribet
Designed by FlexyCreatives