Review: Holy Mother


Judul: Holy Mother
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Penerbit Haru
Halaman: 284 halaman
Terbitan: Oktober 2016

Sinopsis:
Terjadi pembunuhan mengerikan terhadap seorang anak laki-laki di kota tempat Honami tinggal. Korban bahkan diperkosa setelah dibunuh.

Berita itu membuat Honami mengkhawatirkan keselamatan putri satu-satunya yang dia miliki. Pihak kepolisian bahkan tidak bisa dia percayai.

Apa yang akan dia lakukan untuk melindungi putri tunggalnya itu?

Review:
I love this book! and I love Akiyoshi Rikako!
Oke, jadi kemarenan sempat baca yang judulnya Girls in The Dark -- iya yang sekarang difilmkan itu, kali ini aku dibuat awe lagi dengan Holy Mother, bener-bener nggak kepikiran sama sekali, Akiyoshi keren banget bikin twist ceritanya -- aseli kece badai.

Tokoh utama di novel ini ada dua (klo menurutku) Honami dan Makoto -- karena sepanjang 284 halaman, dua orang inilah yang paling banyak diceritakan. Honami sendiri adalah seorang ibu yang berusia 46 tahun dengan 1 anak perempuan berusia 3 tahun bernama Kaoru. Kehidupannya yang tenang selama 3 tahun terakhir mendadak berubah menjadi kecemasan semenjak terjadinya peristiwa pembunuhan anak laki-laki berusia 5 tahun di sekitar tempat tinggal.nya. Korban tersebut dibunuh kemudian alat kelaminnya dipotong dan ada bekas kekerasan seksual. Apa yang membuat pihak berwajib kebingungan adalah, tidak bisa ditemukan bukti apapun yang menempel di tubuh korban, artinya pembunuh.nya akan susah ditemukan. Ditengah-tengah proses penyelidikan yang semakin mengarah ke satu orang, tiba-tiba terjadi pembunuhan kedua. Penyelidikan polisi rasanya seperti kembali ke titik nol, karena ketika pembunuhan kedua itu terjadi, tersangka sedang berada di ruang interogasi.

Honami semakin dihantui ketakutan yang mencekam, dia sangat khawatir jika nanti terjadi sesuatu pada putrinya, dan dia bertekad dalam hati akan melakukan apapun untuk melindungi putri satu-satunya itu.

"Jika sebelum kelahiran anak itu dalam kuasa Tuhan, maka sesudah lahir, anak itu ada dalam kuasa sang Ibu. Kalau setelah ini dia bisa melahirkan anak, Honami bertekad dia akan melindungi anaknya dengan seluruh jiwa dan raganya. Apapun yang terjadi, dia akan terus melindungi anaknya sampai tetes darah penghabisan". (hal. 148)

Buku ini rasanya lebih sesuai untuk pembaca dewasa atau dewasa muda, bukan karena banyak adegan mesum.nya, tapi istilah-istilah seputar kehamilan dan organ bagian dalam tubuh, serta beberapa bahasan explicit rasanya kurang sesuai untuk pembaca remaja, terlebih penjelasan mengenai pembunuhan yang dilakukan oleh pelaku, it's kind of creepy.

Oia, gak dianjurkan baca buku ini ketika lagi menyantap makan pagi, siang atau malam, tapi klo ada yang bisa membagi otak kanan dan kiri dengan sangat baik rasanya ya gak papa sihhh.

Lalu, siapa itu Makoto?

Makoto disini diceritakan sebagai anak SMA yang memiliki kehidupan normal layaknya anak seusianya, dia juga bekerja part-time sebagai pegawai supermarket dan mengajar kendo bagi anak-anak TK dan sekolah dasar. Ketika kabar mengenai pembunuhan itu sampai ditelinganya, dia cukup khawatir -- karena Makoto adalah penyayang anak-anak. Dia tidak suka melihat anak kecil disakiti, terutama jika anak perempuan yang terluka.

Dari sini ada yang bisa menebak tidak kira-kira bagaimana ending dan siapakah pembunuh anak-anak tadi?

I rekomend this book, buat kalian pecinta novel thriler dan suspense. Akiyoshi emang jagonya bikin twist yang bikin kita melongo (kaya orang bloon) dan rasanya pengen re-read. Aku sendiri ketika akhirnya selesai baca buku ini cuma bisa bilang "Oh, may GOD! ini gila banget!"

dan inilah kalimat favoritku sekaligus penutup review kali ini -- go grab your books and share with me! aku pengen tahu komentar kalian ^^v

"Disini juga ada....
....seorang Ibu yang rela menjadi Iblis untuk melindungi putrinya"

ARC: Underwater [Short Review]


Judul: Underwater
Penulis: Marisa Reichardt
Editor: Ayu Yudha
Penerjemah: Mery Riansyah
Penerbit: Spring
Tebal: 330 halaman

Sinopsis:

Memaafkanmu akan membuatku bisa memaafkan diriku sendiri.

Morgan tidak bisa keluar dari pintu depan apartemennya, rumah yang dia tinggali bersama ibu dan adik laki-lakinya. Gadis itu merasa sedang berada di bawah air, tidak mampu naik ke permukaan, tidak mampu bertemu dengan teman-temannya, tidak mampu ke sekolah.

Saat Morgan kira dia tidak bisa menahan napasnya lebih lama lagi, seorang cowok pindah ke sebelah rumahnya. Evan mengingatkannya pada laut yang asin, dan semangat yang dia dapatkan dari berenang. Mungkin, Evan adalah bantuan yang dia butuhkan untuk terhubung kembali dengan dunia luar.
Designed by FlexyCreatives