Review: I Want To Eat Your Pankreas



Judul: I Want to Eat Your Pancreas
Penulis: Sumino Yoru
Penerjemah: Khairun Nisak
Penerbit: Haru
Tanggal terbit: Maret 2017
Jumlah halaman: 309



Awalnya aku agak dibuat dilema sama judul novel ini– semacam, apakah aku bakal baca buku tentang kanibalisme? atau serial murder? Ternyata bukan – syukurlah #fiuh

Dari gossip yang beredar katanya novel ini termasuk yang memenangkan banyak reward lho – penjualannya cukup fantastis – dan bahkan sudah diadaptasi ke sebuah film, tahu Shun Oguri kan, iya doi yang memerankan si ***** - kun itu, emang wajahnya Shun cocok sih yaa – lempeng tanpa ekspresi, ngomong-ngomong, kalian sudah nonton film.nya belum? (etdah, ini kenapa malah bahas hal yang lain sih)

“Menurutmu, ada kemunginan aku tidak membutuhkan pankreasku?” (hal. 9)
(that was – an absurd question, hwkwk)

“Aku akan mandi. Jangan mengintip. Aku melepaskan kulit manusiaku saat mandi” (hal. 121)

Jadi novel ini sebenarnya tentang apa sih?
(baca sinopsisnya) –hwkwkwk, I’m telling you the truth tho, klo mau tahu ya baca sinopsisnya (kidding)

Novel ini menceritakan tentang hubungan pertemanan antara cowok-introvert dengan cewek-extrovert (karakter keduanya sangat bertolak belakang—memang, justru itu yang menjadikan novel ini menarik). Cowok-introvert, sebut saja Aku, secara kebetulan menemukan buku harian milik Sakura Yamauchi, teman sekelasnya yang divonis akan meninggal 1 tahun kedepan, karena pankreasnya yang tidak bisa berfungsi normal lagi. Berawal dari situlah kedekatan Sakura dan Aku terjalin. Sakura sendiri merupakan pribadi yang menyenangkan sangat berkebalikan dengan Aku yang cenderung menutup diri dan tidak punya teman. Singkatnya, Sakura sangat disukai oleh banyak orang dan Aku, tidak.

Karena itu, banyak teman sekelas yang tidak suka ketika keduanya terlihat semakin akrab dari hari kehari—bahkan berita kalau Aku dan Sakura berpergian jauh bersamapun sempat membuat seisi kelas makin tidak menyukai Aku. Let say, “Hai kamu Si Bongkok, jangan ambil Esmeralda kami” –kurang lebih seperti itulah rekasi mereka (maafkan analogiku yang cukup memprihatinkan).

To be honest, pace membacaku terbilang agak lambat ketika membaca novel ini—cukup terganggu dengan sebutan tokoh Aku yang kelewat rumit diucapkan (bahkan lebih rumit dari Dia-Yang-Namanya-Tidak-Boleh-Disebut) hehe –tapi aku suka sekali dengan dialog antara Aku dan Sakura (diatas juga sudah kubilang tadi) Aku yang cenderung sarkastik dan Sakura yang innocent, asal nyeplos—apalagi jika berbicara mengenai kematian yang sering kali tidak pada tempatnya, benar-benar menghibur, hehehe.

“Aku suka makan jeroan. Bila ditanya apa makanan favoritku, akan kujawab jeroan. Aku suka sekali jeroan!”
“Jadi apa yang harus kukatakan kalau kau menyombongkan diri begitu?”
“Duh, tadi lupa pesan nasi putih. Kau mau?” (hal. 31)

“Bisa tidak kita jangan membicarakan perlakuan terhadap mayat sambil makan daging (yakiniku) begini?”
“Pankreasku, boleh kau makan, kok”
“Kau dengar tidak?” (hal. 33)


(aku benar-benar terhibur dengan dua tokoh ini—really, bahasa yang mereka gunakan juga cara keduanya berkomunikasi—benar-benar berlawanan, seolah-olah enggan untuk memahami satu dengan lainnya, tapi justru dengan cara itu keduanya bisa cocok, lucu sekali kan?—duh, mendadak aku jadi kangen sama my best buddy—hwkwkwk)

Apa yang membuat aku kaget plus tercengang adalah—momen ketika Sakura meninggal, benar-benar diluar pemikiranku, twist.nya perlu diacungi jempol, paling suka bagian ini—sekaligus bagian paling nyesek *siapin tisu*dan satu lagi bagian favorit aku di novel ini adalah—ketika akhirnya tahu siapa nama Aku, huwaaaahh—gemes, namanya ternyata cute *eh—abaikan yang barusan*

Kalau disimpulkan novel ini banyak pesan moralnya—terutama tentang persahabatan dan memanfaatkan hidup di sisa umur yang kita miliki, bacaan yang ringan sangat direkomendasikan—at least kalian akan terhibur dengan pembicaraan antara Aku dan Sakura, dan juga tentang pandangan hidup Sakura sendiri terhadap penyakitnya—ending.nya sangat menyentuh (yah meski gak sampe banjir air mata sih)—btw, aku juga suka surat wasiat yang ditulis Sakura.

Especially this part:
“Kau takut menjadikanku sebagai  seseorang yang ada dikehidupanmu, kan?
Kau takut menjadikanku yang akan hilang suatu saat nanti sebagai seorang ‘teman’ atau seorang ‘pacar’
Tidak usah takut. Apapun yang terjadi, manusia harus tetap berhubungan baik dengan manusia lainnya. Sama seperti kita sampai saat ini.”

Posting Komentar

Designed by FlexyCreatives